[Medan | 10 Maret 2026] Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang perubahan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menyusul lonjakan tajam harga minyak dunia di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pemerintah akan melakukan evaluasi kondisi ekonomi dalam satu bulan ke depan sebelum memutuskan apakah perubahan postur fiskal diperlukan.
“Jadi kita lihat, sebulan ini kita lihat bagaimana keadaannya. Nanti kalau satu bulan semuanya berubah, kita evaluasi secara menyeluruh,” ujar Purbaya saat ditemui di Tanah Abang, Senin (9/3/2026).
APBN Tetap Jadi Peredam Gejolak
Menurut Purbaya, pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak global, sementara APBN akan tetap difungsikan sebagai shock absorber untuk meredam dampak gejolak ekonomi.
Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak dunia sempat menyentuh level sekitar US$116 per barel pada perdagangan Senin pagi. Meski demikian, pemerintah menilai lonjakan tersebut belum tentu berlangsung secara permanen karena perhitungan fiskal didasarkan pada rata-rata harga minyak dalam satu tahun.
“Baru satu hari naik di atas US$100 per barel. Perhitungan kita kan setahun penuh. Kalau rata-rata setahun US$100 per barel berarti memang terus naik, tapi sekarang kita masih melihat dulu kondisinya,” kata Purbaya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah belum melihat gangguan berarti terhadap aktivitas ekonomi domestik akibat kenaikan harga minyak yang terjadi saat ini. Momentum pertumbuhan ekonomi dinilai masih tetap terjaga.
Risiko Defisit Fiskal
Purbaya juga mengungkapkan bahwa simulasi risiko (stress test) yang dilakukan Kementerian Keuangan menunjukkan lonjakan harga minyak berpotensi memperlebar defisit fiskal.
Dalam simulasi tersebut, apabila harga minyak dunia mencapai rata-rata US$92 per barel, maka defisit APBN berpotensi meningkat hingga sekitar 3,6% terhadap Produk Domestik Bruto, lebih tinggi dibanding batas fiskal yang selama ini dijaga pemerintah.
Meski demikian, secara year-to-date harga rata-rata minyak mentah masih berada di kisaran US$68,43 per barel, sehingga tekanan terhadap APBN belum sepenuhnya tercermin dalam perhitungan tahunan.
“Hitungan kita berubah-ubah tergantung keadaan. US$92 per barel saja itu kalau rata-rata tahunan. Sekarang rata-ratanya masih di bawah itu, jadi kita masih tenang,” jelasnya.
Harga Minyak Melonjak Tajam
Lonjakan harga energi global terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pada perdagangan Senin (9/3/2026), harga minyak Brent crude oil dan West Texas Intermediate crude oil masing-masing melonjak sekitar 26,09% dan 27,68% dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya, mencapai sekitar US$117 per barel dan US$116,04 per barel.
Kenaikan tajam tersebut dipicu oleh kombinasi gangguan pasokan dan ketidakpastian geopolitik, termasuk terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.
Sejumlah produsen utama di Timur Tengah juga mulai memangkas produksi. Uni Emirat Arab dan Kuwait dilaporkan mengurangi produksi karena fasilitas penyimpanan mereka cepat terisi setelah penutupan jalur pelayaran tersebut.
Langkah serupa juga dilakukan oleh Irak, yang mulai menghentikan sebagian produksinya sejak pekan lalu.

