[Medan | 13 Januari 2026] Jaksa federal Amerika Serikat membuka penyelidikan pidana terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell terkait kesaksiannya di hadapan Kongres pada Juni lalu mengenai proyek renovasi kantor pusat The Fed di Washington DC senilai sekitar US$2,5 miliar. Langkah hukum ini langsung memicu kegelisahan luas di pasar, karena muncul di tengah ketegangan berkepanjangan antara pemerintahan Presiden Donald Trump dan bank sentral AS terkait arah kebijakan suku bunga.
Powell menilai penyelidikan tersebut tidak bisa dilepaskan dari perbedaan pandangan kebijakan antara The Fed dan Gedung Putih. Ia menegaskan bahwa bank sentral menetapkan suku bunga berdasarkan mandat stabilitas harga dan tenaga kerja, bukan atas dasar kepentingan politik. Menurutnya, ancaman pidana terhadap pimpinan bank sentral berpotensi menjadi bentuk tekanan agar kebijakan moneter tunduk pada kehendak eksekutif, sehingga menyentuh langsung isu independensi The Fed.
Dari sisi politik, pemerintahan AS membantah adanya intervensi langsung. Departemen Kehakiman menyatakan penyelidikan berfokus pada dugaan pengelolaan dana publik, sementara Presiden Trump kembali mengkritik Powell tanpa mengonfirmasi keterlibatan langsung dalam proses hukum. Namun, waktu kemunculan kasus ini dinilai sensitif karena berdekatan dengan akhir masa jabatan Powell pada Mei mendatang, di tengah spekulasi penggantinya yang lebih sejalan dengan preferensi suku bunga rendah ala Trump.
Bagi pasar keuangan global, isu independensi The Fed merupakan faktor fundamental. Tekanan politik yang meningkat terhadap bank sentral AS berpotensi mengganggu kredibilitas kebijakan moneter, meningkatkan premi risiko aset dolar, serta mendorong volatilitas di pasar obligasi AS. Kondisi ini dapat menahan penurunan yield US Treasury dan menjaga dolar AS tetap relatif kuat, terutama jika pasar menilai The Fed menjadi lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga.
Implikasinya bagi Indonesia, tekanan tersebut berpotensi membatasi ruang penguatan pasar obligasi domestik. Yield SBN bisa tertahan tinggi seiring investor global menuntut imbal hasil yang lebih menarik di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter AS. Aliran dana asing ke pasar obligasi cenderung selektif, sementara volatilitas nilai tukar rupiah berisiko meningkat apabila sentimen global memburuk.
Di pasar saham, ketidakpastian global akibat isu independensi The Fed cenderung mendorong sikap risk-off jangka pendek. Sektor perbankan berpotensi terdampak melalui tekanan pada nilai tukar dan arus modal, meski fundamental domestik tetap menjadi penopang utama. Secara keseluruhan, perkembangan ini memperkuat pandangan bahwa stabilitas pasar Indonesia dalam waktu dekat masih sangat dipengaruhi dinamika kebijakan dan politik di Amerika Serikat, khususnya menjelang transisi kepemimpinan The Fed.

