[Medan | 30 Maret 2026] Eskalasi konflik Timur Tengah memasuki fase yang jauh lebih berbahaya bagi pasar global. Setelah Iran menutup akses Selat Hormuz dan kelompok Houthi mengancam memblokir jalur Laut Merah, risiko gangguan terhadap dua arteri energi dunia kini meningkat signifikan.
Harga minyak langsung merespons. Kontrak Brent melonjak 2,2% ke US$115,08 per barel, bahkan sempat menyentuh US$116,43, menandai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Dua Chokepoint, Satu Risiko Sistemik
Pasar tidak hanya merespons konflik, tetapi potensi simultaneous disruption pada dua jalur utama:
- Selat Hormuz
→ Mengalirkan ~20% pasokan minyak global (~17–20 juta barel/hari) - Selat Bab el-Mandeb
→ Mengontrol ~10% perdagangan maritim global
→ Termasuk ~20% traffic kontainer dunia
Jika keduanya terganggu bersamaan, pasar menghadapi skenario double supply shock, sesuatu yang jarang terjadi bahkan dalam krisis geopolitik besar sebelumnya.
Lonjakan Minyak dan Skenario Ekstrem Pasar
Kenaikan harga minyak saat ini baru mencerminkan fase awal dari repricing risiko. Sejumlah proyeksi mulai mengarah pada skenario yang lebih agresif, di mana jika konflik berlanjut hingga kuartal kedua 2026 dan gangguan pasokan tidak teratasi, harga minyak berpotensi menembus kisaran US$150 hingga US$200 per barel.
Sebaliknya, apabila de-eskalasi terjadi dalam waktu dekat, harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi di kisaran US$100–120 per barel. Perbedaan skenario ini menunjukkan bahwa volatilitas akan tetap menjadi karakter utama pasar dalam waktu dekat.
Dampak Berantai ke Inflasi dan Kebijakan Moneter
Lonjakan harga energi berpotensi memicu kembali tekanan inflasi global yang sebelumnya mulai mereda. Kenaikan biaya energi akan meningkatkan biaya produksi dan distribusi, sehingga mendorong inflasi berbasis biaya (cost-push inflation).
Dalam konteks ini, ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter global ikut berubah. Kenaikan inflasi berisiko membuat bank sentral, khususnya The Fed, menunda pelonggaran kebijakan atau bahkan membuka ruang untuk kembali menaikkan suku bunga. Kondisi ini tercermin dari kenaikan yield obligasi global serta penguatan dolar AS sebagai aset safe haven utama.
Tekanan Tambahan dari Rantai Pasok Global
Ancaman penutupan jalur Laut Merah memperburuk tekanan yang sudah ada. Sekitar 10% perdagangan dunia melewati jalur ini, sehingga gangguan akan memaksa kapal memutar melalui rute yang lebih panjang. Dampaknya adalah peningkatan biaya logistik dan waktu pengiriman, yang pada akhirnya menekan margin perusahaan dan meningkatkan harga barang di tingkat konsumen.
Situasi ini memperbesar risiko stagflasi, yaitu kombinasi antara perlambatan ekonomi dan inflasi tinggi, yang menjadi skenario paling dihindari oleh pasar.

