[Medan | 5 Februari 2026] Harga minyak dunia melemah setelah Iran mengonfirmasi rencana perundingan dengan Amerika Serikat, meredakan kekhawatiran pasar atas eskalasi konflik militer di kawasan Timur Tengah.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) turun untuk pertama kalinya dalam tiga hari, setelah sebelumnya reli tajam. Sementara Brent juga bergerak melemah meski masih bertahan di kisaran tinggi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan melalui unggahan media sosial bahwa pertemuan dengan perwakilan AS akan digelar di Oman pada Jumat (6/2/2026). Konfirmasi ini menurunkan premi risiko geopolitik yang sempat terbangun di harga minyak dalam dua sesi perdagangan sebelumnya.
Risiko Geopolitik Mereda, Premi Harga Luntur
Selama dua hari terakhir, harga minyak terdorong naik hampir 5% seiring meningkatnya spekulasi potensi serangan militer terhadap Iran—salah satu produsen utama OPEC. Namun, sinyal diplomasi langsung memicu aksi ambil untung (profit taking).
Meski demikian, pasar menilai jalan menuju kesepakatan masih penuh ketidakpastian. Perbedaan posisi terkait ruang lingkup dan parameter pembicaraan membuat hasil negosiasi belum dapat dipastikan, terutama di tengah ketegangan yang melibatkan kawasan pemasok sekitar sepertiga produksi minyak mentah global.
Harga Minyak Tertekan, Tapi Masih Bertahan
Secara harga:
- WTI pengiriman Maret turun 1,4% ke US$64,20 per barel pada pukul 07.11 waktu Singapura
- Brent pengiriman April ditutup melemah, bertahan di kisaran US$69 per barel
Koreksi ini menandai kembalinya sensitivitas harga minyak terhadap dinamika geopolitik, setelah sebelumnya pasar sempat lebih fokus pada isu kelebihan pasokan global yang menekan harga sepanjang paruh kedua 2025.
Outlook: Volatilitas Masih Tinggi
Ke depan, pergerakan harga minyak diperkirakan tetap volatil. Selama belum ada kejelasan hasil negosiasi, premi risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Namun, jika dialog Iran–AS menunjukkan kemajuan konkret, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berlanjut, terutama di tengah fundamental pasokan global yang masih relatif longgar.

