[Medan | 13 April 2026] Bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada awal pekan seiring meningkatnya kembali risiko geopolitik setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Kegagalan ini memicu kekhawatiran pasar bahwa konflik akan berlanjut lebih lama, bahkan berpotensi masuk fase eskalasi baru dengan opsi blokade pelabuhan Iran oleh AS.
Reaksi pasar langsung terlihat pada lonjakan harga energi. Minyak mentah melonjak tajam, dengan WTI naik sekitar 8,5% ke atas US$104 per barel dan Brent menguat ke kisaran US$103. Kenaikan ini mempertegas bahwa premium geopolitik kembali masuk ke harga minyak, setelah sebelumnya sempat mereda saat gencatan senjata sementara.
Dari sisi makro, lonjakan harga energi ini menjadi sentimen negatif karena berpotensi mendorong kembali tekanan inflasi global, khususnya di Amerika Serikat. Hal ini semakin memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer), bahkan membuka kembali peluang kebijakan yang lebih hawkish jika inflasi kembali meningkat.
Di pasar keuangan, risk sentiment langsung memburuk. Bursa Asia kompak melemah, sementara futures Wall Street juga terkoreksi lebih dari 1%. Ini menunjukkan investor kembali melakukan risk-off, mengalihkan dana ke aset safe haven di tengah ketidakpastian arah konflik.
Implikasi ke IHSG
Secara teknikal, IHSG sebelumnya ditutup menguat di 7.458 (+2,07%), namun gagal menembus resistance 7.500, menandakan momentum bullish belum solid. Dengan sentimen global yang memburuk, IHSG berpotensi mengalami koreksi jangka pendek menuju area 7.370–7.300 untuk menutup gap sebelumnya.
Selama konflik belum mereda dan harga minyak tetap tinggi, pasar cenderung berada dalam fase volatil dengan bias koreksi. Dapat mempertimbangkan buy on weakness di area 7.300–7.350, dengan fokus pada sektor energi dan komoditas sebagai defensive play.

