[Medan | 9 April 2026] Cadangan devisa Indonesia tercatat turun menjadi US$148,2 miliar pada akhir Maret 2026, dari sebelumnya US$151,9 miliar pada Februari. Bank Indonesia menyatakan penurunan ini terutama dipengaruhi oleh langkah intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya volatilitas global.
Intervensi Jadi Faktor Utama Penurunan
Bank Indonesia melakukan stabilisasi rupiah sebagai respons terhadap tekanan eksternal, termasuk gejolak geopolitik dan penguatan dolar AS. Selain intervensi, faktor lain yang memengaruhi adalah pembayaran utang luar negeri pemerintah, meskipun sebagian terkompensasi oleh penerbitan global bond serta penerimaan pajak dan jasa.
Posisi Masih Aman, Likuiditas Eksternal Terjaga
Meski menurun, level cadangan devisa masih tergolong kuat, setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar internasional sekitar 3 bulan impor. Ini menunjukkan buffer eksternal Indonesia masih solid dalam menghadapi shock global.
Makna ke Pasar: Stabilitas Dijaga, Tapi Ada Cost
Intervensi ini menegaskan komitmen BI menjaga stabilitas rupiah, namun di sisi lain ada “cost” berupa penurunan cadangan devisa. Selama tekanan global berlanjut, ruang intervensi tetap ada, tetapi pasar akan mulai mencermati kecepatan penurunan cadangan jika tren ini berlanjut.

