[Medan | 10 April 2026] Inflasi Amerika Serikat yang diukur melalui Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat stabil di 2,8% secara tahunan pada Februari, sesuai ekspektasi pasar. Secara bulanan, PCE naik 0,4%. Sementara itu, PCE inti—indikator inflasi utama yang menjadi acuan Federal Reserve—melandai tipis ke 3% dari 3,1% pada bulan sebelumnya, menunjukkan tekanan harga mulai mereda namun masih berada di atas target 2% The Fed.
Di sisi lain, klaim awal tunjangan pengangguran naik moderat menjadi 219.000, sedikit di atas ekspektasi, namun masih berada di level historis rendah. Kondisi ini menandakan pasar tenaga kerja AS tetap solid, dengan tingkat PHK yang rendah meskipun rekrutmen cenderung melambat.
Kombinasi inflasi yang masih sticky dan tenaga kerja yang belum melemah signifikan membuat ruang The Fed untuk memangkas suku bunga semakin terbatas. Saat ini, suku bunga acuan bertahan di kisaran 3,50%–3,75%, dengan ekspektasi pasar yang semakin menunda pemangkasan sepanjang tahun 2026.
Meski begitu, muncul perdebatan di internal The Fed. Sebagian pejabat mulai mempertimbangkan opsi kenaikan suku bunga jika inflasi kembali meningkat, terutama dipicu lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Di sisi lain, sebagian lainnya masih memilih sikap menunggu untuk melihat dampak lanjutan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Data tambahan menunjukkan belanja konsumsi masih cukup kuat dengan kenaikan 0,5% secara bulanan, meski pendapatan pribadi sedikit terkontraksi. Ini mengindikasikan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi AS, namun dengan daya tahan yang mulai teruji.
Pasar tenaga kerja sendiri masih berada dalam kondisi “low-hire, low-fire”, di mana perusahaan menahan rekrutmen tetapi juga belum melakukan PHK besar. Namun, durasi pengangguran yang meningkat ke 11,4 minggu menunjukkan tanda-tanda perlambatan bertahap dalam penyerapan tenaga kerja.
Dengan inflasi yang belum kembali ke target, tenaga kerja yang masih kuat, serta risiko tambahan dari lonjakan harga energi akibat konflik Iran, arah kebijakan The Fed cenderung tetap hawkish bias atau setidaknya bertahan lebih lama di level suku bunga tinggi.
Secara keseluruhan, data ini memperkuat skenario bahwa The Fed belum akan terburu-buru melonggarkan kebijakan, dengan risiko arah kebijakan bisa bergeser kembali ke tightening jika tekanan inflasi kembali meningkat.

