[Medan | 12 Maret 2026] Laju inflasi inti di Amerika Serikat tercatat melambat pada Februari, memberikan sinyal meredanya tekanan harga sebelum meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik dengan Iran yang kini berpotensi kembali memicu lonjakan inflasi global.
Berdasarkan data Bureau of Labor Statistics (BLS) yang dirilis Rabu (11/3), Indeks Harga Konsumen (IHK) inti—yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi—naik 0,2% secara bulanan dibandingkan Januari. Secara tahunan, inflasi inti tercatat 2,5%, menjadi laju paling rendah dalam hampir lima tahun terakhir.
Penurunan Harga Kendaraan Bekas
Data tersebut menunjukkan bahwa penurunan harga mobil bekas serta asuransi kendaraan bermotor turut membantu menahan tekanan inflasi selama Februari. Hal itu terjadi meskipun beberapa komponen lain mengalami kenaikan, seperti harga bensin serta bahan pangan pokok termasuk sayuran segar dan kopi.
Dalam beberapa bulan terakhir, inflasi di Amerika Serikat memang menunjukkan tren penurunan setelah sempat bertahan tinggi sepanjang tahun lalu. Namun situasi tersebut kini menghadapi tantangan baru menyusul meningkatnya konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi dan komoditas.
Risiko Inflasi dari Lonjakan Harga Energi
Perang dengan Iran telah mendorong kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan biaya bensin, pupuk, serta berbagai biaya produksi lainnya. Kondisi ini berisiko memperburuk tekanan daya beli rumah tangga di AS, terutama menjelang pemilihan paruh waktu yang akan berlangsung tahun ini.
Harga bensin di tingkat ritel bahkan tercatat melonjak dari US$2,98 per galon sebelum konflik menjadi US$3,58 per galon, menurut data dari American Automobile Association (AAA).
Kepala ekonom High Frequency Economics, Carl Weinberg, memperkirakan dampak lonjakan harga energi akan semakin terlihat pada laporan inflasi berikutnya.
Ia menilai kenaikan biaya energi tidak hanya memengaruhi harga bahan bakar, tetapi juga akan menjalar ke sektor lain seperti tarif penerbangan, transportasi logistik, hingga harga pangan.
Sikap The Fed
Di tengah perkembangan tersebut, pejabat Federal Reserve diperkirakan akan menahan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan pekan depan. Namun meningkatnya risiko inflasi akibat konflik energi membuat sebagian investor memperkirakan bank sentral AS dapat menunda pemangkasan suku bunga hingga lebih lama dari sebelumnya.
Ekonom senior di BMO Capital Markets, Sal Guatieri, menilai sebelum guncangan harga energi terjadi, inflasi sebenarnya mulai menunjukkan tanda stabilisasi.
Menurutnya, dampak tarif perdagangan terhadap inflasi juga mulai memudar dalam beberapa bulan terakhir.
Respons Pasar Keuangan
Pasar keuangan merespons cepat laporan inflasi tersebut. Indeks saham S&P 500 sempat berbalik arah dari penguatan awal, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat.
Para pelaku pasar kini memperkirakan The Fed kemungkinan baru akan mulai memangkas suku bunga pada paruh kedua 2026, seiring meningkatnya ketidakpastian terkait inflasi energi dan dinamika ekonomi global.
Tekanan Harga Pangan dan Energi
Jika memasukkan komponen makanan dan energi, inflasi keseluruhan tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 2,4% secara tahunan.
Beberapa komoditas pangan mengalami kenaikan harga cukup signifikan. Harga sayuran segar, termasuk selada dan tomat, melonjak paling besar sejak 2017, sementara harga kopi juga meningkat. Sebaliknya, harga telur dan mentega justru mengalami penurunan.
Di sisi lain, indikator harga di tingkat produsen juga masih menunjukkan tekanan yang relatif tinggi. Data dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan harga input bagi produsen meningkat pada Februari dengan laju tercepat sejak 2022.
Meski demikian, indikator harga di sektor jasa versi ISM justru menunjukkan perlambatan pada periode yang sama.
Indikator Inflasi Pilihan The Fed
Bank sentral AS juga memantau indikator lain yang dikenal sebagai Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang menggunakan sejumlah komponen dari data IHK untuk menghitung tekanan inflasi secara lebih luas.
Data terbaru indeks tersebut dijadwalkan dirilis dalam waktu dekat dan diperkirakan dapat memberikan gambaran tambahan mengenai arah inflasi di Amerika Serikat pada awal tahun ini.
Sementara itu, laporan terpisah dari Bureau of Labor Statistics juga menunjukkan bahwa upah riil pekerja AS, yang telah disesuaikan dengan inflasi, meningkat dengan laju tahunan tercepat sejak Mei tahun lalu, memberikan sedikit ruang bagi daya beli rumah tangga di tengah tekanan biaya hidup yang masih tinggi.

