[Medan | 11 Maret 2026] Harga minyak mentah dunia berbalik arah dan melemah pada perdagangan Rabu (11/3) setelah muncul laporan bahwa International Energy Agency (IEA) mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar untuk meredam lonjakan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Laporan The Wall Street Journal menyebut IEA mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah organisasi tersebut guna menekan harga minyak mentah yang sebelumnya melonjak tajam di tengah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Harga Minyak Terkoreksi
Pada Rabu (11/3/2026) pukul 07.30 WIB, harga minyak mentah berjangka Brent crude oil untuk kontrak pengiriman Mei 2026 tercatat melemah 23 sen atau 0,26% menjadi US$87,57 per barel.
Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 turun 37 sen atau 0,44% menjadi US$83,08 per barel.
Padahal pada awal perdagangan hari yang sama, WTI sempat melonjak sekitar 5% hingga mencapai US$87,70 per barel. Kenaikan tersebut dipicu oleh terbatasnya pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia di tengah eskalasi konflik yang masih berlangsung.
Proposal Pelepasan Cadangan Minyak
Namun, sentimen pasar berubah setelah muncul kabar bahwa International Energy Agency mengusulkan pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar.
Menurut laporan The Wall Street Journal, jumlah cadangan yang akan dilepas berpotensi melampaui 182 juta barel minyak yang sebelumnya dikeluarkan negara-negara anggota IEA pada tahun 2022, ketika Rusia melancarkan invasi penuh ke Ukraina.
IEA dijadwalkan menggelar pertemuan luar biasa dengan negara-negara anggotanya untuk membahas proposal tersebut. Keputusan final diperkirakan akan ditentukan dalam pertemuan yang berlangsung pekan ini.
Dalam mekanisme organisasi tersebut, proposal pelepasan cadangan dapat disetujui apabila tidak ada negara anggota yang mengajukan keberatan. Namun, keberatan dari satu negara saja berpotensi menunda implementasi rencana tersebut.
Respons G7 dan Gedung Putih
Sejauh ini, International Energy Agency maupun White House belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.
Sebelumnya, para menteri energi dari negara Group of Seven (G7) juga telah membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis. Namun dalam pertemuan terakhir, para menteri belum mencapai kesepakatan dan memilih meminta IEA untuk terlebih dahulu melakukan penilaian terhadap kondisi pasar energi global.
Lonjakan harga minyak sebelumnya sempat membawa harga energi ke level tertinggi dalam hampir empat tahun pada awal pekan ini. Namun tekanan mulai mereda setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi segera berakhir, yang memicu koreksi harga minyak di pasar global.

