[Medan | 6 Januari 2026] Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda menegaskan komitmen bank sentral untuk melanjutkan kenaikan suku bunga, selama kondisi ekonomi dan inflasi bergerak sesuai dengan proyeksi. Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa Jepang tengah memasuki fase normalisasi kebijakan moneter setelah puluhan tahun berada dalam rezim suku bunga ultra-rendah.
Ueda menyampaikan bahwa ekonomi Jepang menunjukkan pemulihan moderat sepanjang tahun lalu, meskipun laba perusahaan sempat tertekan akibat kenaikan tarif Amerika Serikat. Ke depan, kenaikan upah dan inflasi diperkirakan berlangsung sejalan secara bertahap, mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Normalisasi Kebijakan Moneter Jepang Berlanjut
BOJ sebelumnya telah menaikkan suku bunga kebijakan ke level 0,75%, tertinggi dalam hampir 30 tahun, dari posisi 0,5% pada bulan sebelumnya. Langkah ini menandai fase lanjutan dari upaya mengakhiri kebijakan stimulus moneter masif dan biaya pinjaman mendekati nol yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Meski demikian, secara riil kebijakan moneter Jepang masih tergolong longgar. Inflasi konsumen telah berada di atas target BOJ sebesar 2% selama hampir empat tahun, membuat suku bunga riil tetap berada di wilayah negatif. Kondisi ini memberi ruang bagi BOJ untuk melanjutkan pengetatan secara bertahap tanpa langsung menekan pertumbuhan.
Yen Melemah dan Tekanan Inflasi Impor
Pelemahan nilai tukar yen menjadi faktor penting dalam perhitungan kebijakan BOJ. Depresiasi yen telah mendorong kenaikan biaya impor dan memperluas tekanan inflasi domestik. Hal ini meningkatkan urgensi penyesuaian kebijakan, terutama untuk mencegah inflasi yang bersumber dari nilai tukar menjadi terlalu persisten.
Pasar kini menaruh perhatian besar pada laporan prospek triwulanan BOJ yang akan dirilis pada pertemuan kebijakan 22–23 Januari. Dokumen tersebut diperkirakan akan memberikan sinyal arah dan kecepatan kenaikan suku bunga berikutnya, khususnya dalam merespons dampak pelemahan yen terhadap inflasi.
Yield JGB Naik, Dampak ke Pasar Global
Ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ lebih lanjut telah mendorong lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang. Yield JGB tenor 10 tahun sempat menyentuh level 2,125%, tertinggi dalam 27 tahun. Kenaikan ini berpotensi memicu reposisi portofolio global, mengingat Jepang selama ini menjadi sumber likuiditas global melalui strategi carry trade.
Jika imbal hasil Jepang terus meningkat, sebagian dana global berpotensi kembali ke aset yen, mengurangi aliran ke pasar obligasi negara lain, termasuk emerging markets. Namun, proses ini diperkirakan berlangsung bertahap, seiring pendekatan BOJ yang cenderung hati-hati.
Implikasi ke Pasar Keuangan Indonesia
Bagi Indonesia, normalisasi kebijakan moneter Jepang menjadi faktor risiko eksternal yang perlu dicermati. Kenaikan yield JGB berpotensi mengurangi daya tarik relatif Surat Berharga Negara (SBN), terutama bagi investor institusi Jepang yang selama ini aktif di pasar obligasi global.
Di pasar obligasi domestik, dampaknya diperkirakan terbatas dalam jangka pendek, mengingat BI masih menjaga stabilitas pasar dan fundamental makro Indonesia relatif solid. Namun, dalam jangka menengah, tekanan kenaikan yield global bisa mendorong kenaikan yield SBN secara gradual.
Untuk pasar saham, potensi dampak lebih bersifat sentimen. Jika aliran dana global cenderung kembali ke Jepang, saham-saham berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap arus asing dapat mengalami volatilitas. Sebaliknya, sektor domestik dan berbasis konsumsi berpotensi lebih defensif.
Dari sisi nilai tukar, pergeseran arus modal global dapat menambah tekanan terhadap rupiah, terutama jika dikombinasikan dengan sentimen risk-off global. Namun, tekanan tersebut masih diperkirakan terkendali selama diferensial suku bunga Indonesia tetap menarik.
Kesimpulan
Sikap tegas BOJ untuk melanjutkan kenaikan suku bunga menandai perubahan struktural penting dalam lanskap moneter global. Jepang tidak lagi menjadi sumber likuiditas ultra-murah tanpa batas, sehingga pasar global mulai menyesuaikan ekspektasi dan alokasi aset.
Bagi Indonesia, dampaknya lebih bersifat jangka menengah melalui kanal aliran modal dan pergerakan yield global. Selama proses normalisasi BOJ berlangsung bertahap dan terukur, risiko ke pasar keuangan domestik masih dapat dikelola, meski volatilitas berpotensi meningkat seiring perubahan peta likuiditas global.

