[Medan | 25 Februari 2026] Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menetapkan peringkat BBB untuk global bond Indonesia yang diterbitkan dalam denominasi euro dan yuan offshore. Peringkat ini sejalan dengan Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating (IDR) Indonesia yang masih berada di level investment grade dengan outlook stabil.
Di tengah volatilitas global yang belum mereda, keputusan Fitch tersebut berfungsi sebagai jangkar kepercayaan bagi investor global. Namun demikian, laporan Fitch menegaskan bahwa peringkat ini bukanlah bentuk toleransi tanpa syarat, melainkan refleksi dari keseimbangan yang relatif rapuh antara stabilitas makro dan risiko struktural yang masih membayangi.
Makna Rating BBB: Layak, Tapi Rentan
Peringkat BBB menempatkan obligasi Indonesia satu tingkat di atas ambang batas terendah investment grade. Artinya, risiko gagal bayar dinilai moderat dan instrumen ini masih dapat diterima oleh investor institusional global dengan mandat konservatif.
Meski demikian, Fitch menekankan bahwa keberlanjutan peringkat ini sangat bergantung pada disiplin kebijakan, terutama di sisi fiskal dan eksternal. Setiap deviasi signifikan berpotensi memicu peninjauan ulang peringkat ke depan.
Fiskal Jadi Penopang Utama
Faktor pertama yang menjadi sorotan Fitch adalah kondisi keuangan publik. Peringkat berpeluang ditingkatkan apabila rasio pendapatan pemerintah mengalami peningkatan signifikan dan semakin mendekati rata-rata negara dengan peringkat BBB, misalnya melalui perbaikan kepatuhan pajak atau perluasan basis pajak yang berkelanjutan.
Sebaliknya, Fitch menilai tekanan terhadap peringkat akan muncul jika rasio utang pemerintah meningkat tajam, khususnya akibat pelebaran defisit fiskal atau realisasi kewajiban kontinjensi yang membebani APBN. Dalam konteks ini, ruang fiskal menjadi benteng utama untuk menjaga kredibilitas kredit Indonesia.
Ketahanan Eksternal Tak Kalah Krusial
Aspek kedua yang dinilai Fitch adalah posisi keuangan eksternal. Penurunan kerentanan eksternal—misalnya melalui peningkatan cadangan devisa secara berkelanjutan atau berkurangnya ketergantungan pada volatilitas harga komoditas—dipandang sebagai faktor pendukung peringkat.
Sebaliknya, penurunan cadangan devisa yang bersifat struktural, baik akibat arus keluar modal maupun intervensi valas dalam skala besar, berpotensi menggerus persepsi risiko. Hal ini menjadi semakin relevan di tengah lingkungan global yang tidak ramah, ditandai oleh volatilitas suku bunga global, penguatan dolar AS, serta meningkatnya ketegangan geopolitik.
Dalam kondisi tersebut, stabilitas rupiah dan kecukupan cadangan devisa menjadi indikator utama kepercayaan investor terhadap Indonesia.
Tata Kelola Masih Jadi Catatan
Fitch juga menyoroti faktor struktural, khususnya tata kelola. Indonesia memperoleh Skor Relevansi ESG sebesar ‘5’ untuk indikator stabilitas politik, supremasi hukum, kualitas institusi, dan pengendalian korupsi. Skor ini mencerminkan bobot besar indikator tata kelola dari World Bank dalam model pemeringkatan sovereign Fitch.
Dalam indikator tata kelola Bank Dunia, Indonesia berada di persentil ke-44—kategori menengah. Transisi politik yang relatif damai, institusi yang cukup mapan, serta tingkat partisipasi politik yang moderat menjadi faktor pendukung peringkat. Namun demikian, isu korupsi dan kualitas regulasi masih menjadi pekerjaan rumah yang dicatat Fitch.
Sensitivitas Terhadap Nilai Tukar
Fitch menegaskan bahwa peringkat obligasi ini sensitif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang terhadap mata uang asing. Setiap tekanan berkelanjutan pada kurs berpotensi meningkatkan risiko kredit, terutama bagi instrumen berdenominasi valuta asing.
Bagi pasar obligasi global, tata kelola bukan sekadar isu normatif, melainkan variabel risiko yang berpengaruh langsung terhadap biaya pinjaman. Kepastian hukum, konsistensi kebijakan, dan persepsi terhadap korupsi pada akhirnya tercermin dalam premi risiko yang diminta investor atas surat utang Indonesia.

