[Medan | 5 Maret 2026] Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Rabu (4/3/2026). Di pasar spot, rupiah ditutup melemah ke level Rp 16.892 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 0,12% dibandingkan hari sebelumnya di Rp 16.872 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat bergerak ke level terlemah harian Rp 16.937 per dolar AS.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) milik Bank Indonesia juga melemah 0,24% ke Rp 16.911 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 16.870.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen domestik dan global. Dari domestik, pasar merespons negatif revisi prospek peringkat kredit Indonesia oleh Fitch Ratings. Lembaga internasional itu menurunkan outlook utang pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, meski peringkat utang jangka panjang tetap di level BBB.
Dalam draf penilaian yang beredar, Fitch menyoroti meningkatnya ketidakpastian kebijakan fiskal dan pengelolaan APBN. “Revisi outlook mencerminkan ketidakpastian yang meningkat serta kekhawatiran terhadap konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi,” ujar Ibrahim. Fitch menilai kondisi tersebut berpotensi menekan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan kepercayaan investor, dan memberi tekanan pada ketahanan eksternal Indonesia.
Lembaga pemeringkat juga memproyeksikan defisit fiskal 2026 mencapai 2,9% dari produk domestik bruto (PDB), sedikit lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,7%. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif serta peningkatan belanja sosial, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari sisi global, tekanan tambahan muncul dari risiko geopolitik di Timur Tengah. Ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dari produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kehati-hatian investor global.
Untuk perdagangan Kamis (5/3/2026), pasar diperkirakan masih mencermati perkembangan geopolitik dan respons pasar global. Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.890–Rp 16.940 per dolar AS. Ia menekankan, tekanan bisa bertambah jika rupiah menembus level psikologis Rp 17.000, membuka peluang koreksi lebih dalam hingga Rp 17.400 sepanjang 2026.

