[Medan | 9 Maret 2026] Nilai tukar rupiah kembali melemah pada akhir perdagangan pekan lalu dan semakin mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Tekanan terhadap mata uang Garuda diperkirakan masih berlanjut pada awal pekan ini di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,12% ke level Rp16.925 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026). Sejalan dengan itu, kurs referensi JISDOR yang dirilis Bank Indonesia juga melemah Rp33 atau 0,20% menjadi Rp16.919 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong investor mencari aset aman seperti dolar AS. “Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang memburuk akibat memanasnya situasi di Timur Tengah,” ujar Lukman.
Tekanan dari Harga Minyak
Selain faktor geopolitik, lonjakan harga minyak dunia juga menambah tekanan bagi rupiah. Harga energi yang lebih tinggi berpotensi memperbesar beban impor Indonesia, yang pada akhirnya dapat memengaruhi neraca perdagangan serta memicu inflasi domestik.
Penurunan cadangan devisa Indonesia juga menjadi sentimen tambahan yang menekan pergerakan mata uang nasional.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Memasuki perdagangan awal pekan ini, arah rupiah masih sangat dipengaruhi oleh sentimen global, terutama data ekonomi dari Amerika Serikat. Salah satu indikator yang menjadi perhatian pasar adalah laporan Nonfarm Payrolls, yang mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja AS.
Jika data ekonomi AS tetap kuat, dolar berpotensi semakin menguat sehingga memberi tekanan tambahan pada rupiah. Meski demikian, pasar memperkirakan Bank Indonesia akan tetap aktif melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Untuk perdagangan Senin (9/3/2026), Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.850 hingga Rp17.000 per dolar AS. Jika tekanan global berlanjut, level psikologis Rp17.000 per dolar berpotensi kembali diuji.

