[Medan | 30 Maret 2026] Gelombang demonstrasi besar melanda Amerika Serikat setelah jutaan warga turun ke jalan dalam aksi bertajuk No Kings pada Sabtu (28/3). Aksi ini disebut sebagai salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah modern AS, sekaligus mencerminkan meningkatnya tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump di tengah eskalasi perang Iran.
Salah Satu Demonstrasi Terbesar dalam Sejarah AS
Skala aksi menjadi sorotan utama. Penyelenggara dari Koalisi No Kings menyebut jumlah peserta mencapai sekitar 8 juta orang yang tersebar di lebih dari 3.300 lokasi di seluruh 50 negara bagian. Angka ini bahkan masih berpotensi bertambah, dengan target partisipasi menembus 9 juta orang.
Jika angka tersebut terkonfirmasi, demonstrasi ini akan menjadi salah satu aksi serentak terbesar dalam satu hari dalam sejarah AS, melampaui banyak protes besar sebelumnya baik dari sisi jangkauan geografis maupun jumlah massa.
Isu Perang Iran Jadi Pemicu Utama
Meski dipicu oleh berbagai faktor domestik, isu perang menjadi katalis utama. Di berbagai kota, massa secara konsisten menyerukan “End this war”, menandakan meningkatnya penolakan publik terhadap keterlibatan militer AS dalam konflik Iran yang telah berlangsung lebih dari satu bulan.
Selain faktor geopolitik, tekanan domestik juga memperkuat aksi protes. Kebijakan imigrasi yang dinilai agresif, lonjakan harga energi dan kebutuhan pokok, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi menjadi kombinasi yang mendorong ketidakpuasan publik secara luas.
Dengan kata lain, demonstrasi ini bukan hanya anti-perang, tetapi juga mencerminkan akumulasi tekanan sosial-ekonomi yang semakin besar.
Approval Rating Melemah, Tekanan Politik Meningkat
Di tengah eskalasi protes, tingkat kepuasan publik terhadap Donald Trump dilaporkan turun ke kisaran 36%, level yang secara historis tergolong rendah bagi presiden petahana.
Penurunan ini menjadi indikator penting karena menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya datang dari jalanan, tetapi juga mulai tercermin dalam persepsi publik secara nasional. Dalam konteks politik AS, pelemahan approval rating sering kali menjadi titik awal meningkatnya risiko tekanan dari parlemen, terutama jika beriringan dengan isu besar seperti perang dan ekonomi.
Dorongan Pemakzulan Kembali Menguat
Di sisi lain, wacana pemakzulan kembali mencuat. Organisasi advokasi Free Speech for People melaporkan bahwa petisi untuk memakzulkan Trump telah mengumpulkan lebih dari 1 juta tanda tangan, dengan target mencapai 2 juta.
Kampanye ini menyoroti tuduhan penyalahgunaan kekuasaan serta pelanggaran terhadap prinsip konstitusi. Tekanan ini semakin relevan mengingat Trump sebelumnya merupakan satu-satunya presiden AS yang telah dua kali dimakzulkan, masing-masing pada 2019 dan 2021, meskipun akhirnya lolos dari pemakzulan di Senat.
Namun demikian, secara politik, peluang pemakzulan dalam waktu dekat masih terbatas mengingat Kongres saat ini dikuasai oleh Partai Republik, yang menjadi basis dukungan utama Trump.

