[Medan | 9 Maret 2026] Bursa saham Asia kompak melemah pada awal perdagangan Senin (9/3), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global dan lonjakan harga energi. Kondisi ini juga berpotensi memberi tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini.
Pada sesi pembukaan, indeks saham Asia turun sekitar 1,8%, sementara kontrak berjangka Nasdaq 100 anjlok hingga 2%. Di saat yang sama, dolar AS menguat terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia.
Harga emas dan perak justru melemah di tengah kekhawatiran inflasi yang meningkat akibat lonjakan harga energi. Kondisi ini memunculkan spekulasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, atau bahkan kembali menaikkannya.
Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2011, menandakan meningkatnya tekanan pada pasar global.
Tekanan Geopolitik Memicu Aksi Jual
Gelombang aksi jual melanda berbagai kelas aset sejak pekan lalu setelah eskalasi konflik di Timur Tengah menambah tekanan baru bagi pasar yang sebelumnya sudah dibayangi kekhawatiran disrupsi teknologi kecerdasan buatan (AI) dan potensi keretakan di pasar kredit global.
Menurut Dave Mazza, CEO Roundhill Financial, gangguan pasokan energi kini tidak hanya berkaitan dengan potensi penutupan Selat Hormuz, tetapi juga telah merambah lebih luas ke kawasan tersebut.
“Pergeseran ini membuat investor yang sebelumnya sudah cemas semakin cepat menarik dana dari aset berisiko,” ujarnya.
Ketegangan meningkat setelah Iran terus melancarkan serangan ke negara-negara tetangga, sementara Israel membalas dengan menyerang fasilitas energi di Teheran. Presiden AS Donald Trump bahkan memperingatkan bahwa serangan dapat meluas hingga target yang sebelumnya tidak masuk daftar operasi militer.
Dolar AS Menguat, Pasar Tenaga Kerja Melemah
Di tengah ketidakpastian global, dolar AS semakin menguat sebagai aset safe haven. Bloomberg Dollar Spot Index tercatat naik sekitar 0,5% pada perdagangan Senin.
Menurut Carol Kong, analis strategi di Commonwealth Bank of Australia, penguatan dolar didukung statusnya sebagai aset aman sekaligus posisi Amerika Serikat sebagai eksportir energi bersih.
“Seberapa jauh dolar akan terus menguat sangat bergantung pada kedalaman dan durasi konflik yang saat ini masih sangat tidak pasti,” ujarnya.
Sementara itu, data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan. Laporan Nonfarm Payrolls menunjukkan jumlah pekerjaan turun 92.000 pada bulan lalu, salah satu penurunan terbesar sejak pandemi. Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,4%.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury 10-Year naik ke level 4,18%, memperpanjang tekanan di pasar surat utang global.
Prospek IHSG
Meningkatnya volatilitas global turut mendorong lonjakan CBOE Volatility Index atau VIX mendekati level 30, menandakan meningkatnya ketakutan investor terhadap pergerakan pasar saham.
Di tengah kondisi tersebut, IHSG diperkirakan berpotensi melemah pada pekan ini. Tim riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan kembali menguji level 7.480. Jika level ini ditembus, indeks berpotensi melanjutkan penurunan menuju area support di kisaran 7.250–7.300.

