[Medan | 9 Februari 2026] Bank Indonesia (BI) mulai pekan ini tidak lagi menyajikan data aliran modal asing mingguan yang selama ini mencakup pergerakan dana nonresiden di pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Ke depan, BI hanya akan melaporkan perkembangan kepemilikan SRBI secara berkala.
Sebelumnya, laporan mingguan BI menjadi rujukan utama pelaku pasar karena menyajikan gambaran komprehensif arus modal asing, termasuk data credit default swap (CDS) sebagai indikator persepsi risiko Indonesia.
Alasan Resmi BI: Akuntabilitas dan Reliabilitas
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa perubahan ini dilakukan untuk meningkatkan akuntabilitas dan reliabilitas data. Menurut BI, data aliran asing di pasar saham dan SBN tetap dapat diakses melalui sumber resmi masing-masing, yakni Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan.
Sementara itu, data kepemilikan SRBI tetap dipublikasikan langsung oleh BI melalui situs resminya.
Implikasi bagi Transparansi Pasar
Meski tidak menghilangkan akses data, perubahan ini berpotensi mengurangi kemudahan pelaku pasar dalam membaca arah aliran modal asing secara terintegrasi. Selama ini, laporan mingguan BI menjadi acuan cepat untuk menilai sentimen investor global terhadap aset keuangan Indonesia, terutama di tengah volatilitas nilai tukar dan pasar obligasi.
Fragmentasi sumber data juga berisiko memperlambat respons pasar, khususnya bagi investor yang mengandalkan rilis BI sebagai ringkasan kondisi pasar keuangan domestik.
Tekanan Pasar Masih Terlihat
Pada data terakhir yang dirilis BI, rupiah tercatat melemah ke level Rp16.850 per dolar AS pada Jumat (6/2/2026), dari Rp16.825 per dolar AS sehari sebelumnya. Di saat yang sama, yield SBN tenor 10 tahun naik ke 6,37% dari 6,30%, mencerminkan tekanan di pasar obligasi.
Premi CDS 5 tahun Indonesia per 29 Januari 2026 juga naik ke 75,31 basis poin, dari 73,05 basis poin pada pekan sebelumnya, menandakan meningkatnya persepsi risiko di mata investor.
Konteks Arus Modal Asing Terakhir
Pada pekan keempat Januari 2026, BI masih mencatat capital outflow sebesar Rp12,55 triliun dari pasar keuangan domestik. Nonresiden tercatat jual bersih di pasar saham dan SBN, sementara masih membukukan beli bersih di SRBI.
Secara year to date hingga 29 Januari 2026, aliran asing masih menunjukkan pola yang tidak merata, dengan beli bersih di saham dan SRBI, namun arus keluar tipis di pasar SBN.
Waktu yang Sensitif
Perubahan pola pelaporan ini terjadi di tengah meningkatnya sensitivitas pasar terhadap isu aliran modal asing, termasuk kekhawatiran rebalancing indeks global, volatilitas rupiah, dan persepsi risiko fiskal. Meski BI menegaskan komitmen menjaga stabilitas eksternal melalui bauran kebijakan dan koordinasi lintas otoritas, pasar kemungkinan akan mencermati lebih dalam transparansi data ke depan sebagai bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor.

