[Medan | 14 Januari 2026] Defisit anggaran Amerika Serikat (AS) menyusut menjadi US$1,67 triliun pada tahun kalender 2025, level terendah dalam tiga tahun terakhir. Penurunan defisit ini terutama ditopang oleh lonjakan pendapatan bea masuk yang mencetak rekor seiring kebijakan tarif perdagangan Presiden Donald Trump.
Berdasarkan data Departemen Keuangan AS yang dirilis Selasa, defisit anggaran pada Desember 2025 tercatat sebesar US$145 miliar. Sementara itu, pada tiga bulan pertama tahun fiskal 2026—yang dimulai 1 Oktober—defisit kumulatif mencapai US$602 miliar. Namun, penerimaan bea cukai pada Desember tercatat melambat menjadi US$28 miliar, terendah sejak Juli.
Untuk sepanjang tahun kalender 2025, pendapatan dari tarif perdagangan mencapai US$264 miliar, melonjak sekitar US$185 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, keberlanjutan arus pendapatan tersebut masih menghadapi risiko hukum, mengingat Mahkamah Agung AS tengah bersiap memutuskan legalitas sejumlah pungutan tarif yang diberlakukan pemerintahan Trump.
Di sisi lain, kebijakan fiskal domestik justru mulai menekan penerimaan negara. Data Desember menunjukkan penerimaan pajak perusahaan turun 28% secara tahunan menjadi US$65 miliar, mencerminkan dampak awal dari undang-undang pajak andalan Trump. Tekanan penerimaan diperkirakan berlanjut seiring dimulainya musim pengajuan dan pengembalian pajak individu.
Ke depan, prospek fiskal AS kembali menjadi perhatian. Undang-Undang One Big Beautiful Bill diproyeksikan menambah defisit hingga US$3,4 triliun dalam periode 10 tahun hingga 2034, menurut estimasi Kantor Anggaran Kongres (CBO).
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut penyempitan defisit sebagai bukti keberhasilan kebijakan ekonomi pemerintah. Untuk tahun fiskal 2025 yang berakhir 30 September, rasio defisit terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat menyempit ke 5,9%, dari 6,3% pada tahun sebelumnya.
Namun, sejumlah analis anggaran menilai perbaikan tersebut bersifat semu. Perubahan metode perhitungan dampak pinjaman mahasiswa dinilai mendistorsi rasio defisit. Dengan penyesuaian tersebut, analis JPMorgan Chase & Co. memperkirakan defisit fiskal 2025 sebenarnya melampaui US$1,9 triliun, atau kembali di atas 6% terhadap PDB.
Tekanan struktural pada fiskal AS masih kuat, terutama dari belanja wajib. Pada kuartal pertama tahun fiskal 2026, beban bunga utang melonjak 15% secara tahunan menjadi US$355 miliar. Pengeluaran Medicare meningkat 9%, Medicaid naik 11%, dan Jaminan Sosial bertambah 7%.
Ketiga pos tersebut, bunga utang, Jaminan Sosial, serta layanan kesehatan, menyumbang US$1,27 triliun dari total belanja US$1,83 triliun pada kuartal tersebut, atau lebih dari separuh total pengeluaran pemerintah federal.

