[Medan | 7 April 2026] Pasar global bergerak fluktuatif menjelang tenggat waktu ultimatum dari Donald Trump kepada Iran. Hingga mendekati deadline, belum ada kesepakatan konkret, sementara risiko eskalasi militer masih tinggi. Ketidakpastian ini membuat investor cenderung wait and see, dengan pergerakan aset global yang cenderung mixed.
Minyak Tetap Tinggi di Tengah Ketegangan
Harga minyak Brent sempat terkoreksi namun tetap bertahan di bawah US$110 per barel, mencerminkan risk premium yang masih tinggi. Fokus utama tetap pada Selat Hormuz, di mana kebebasan navigasi menjadi syarat utama dari AS. Selama jalur ini belum sepenuhnya terbuka, pasar energi akan tetap dalam kondisi ketat.
Pasar Saham Relatif Resilient
Di tengah ketegangan, bursa Asia justru menguat dengan indeks MSCI Asia Pasifik naik 0,7%, didorong sektor teknologi. Saham teknologi dinilai lebih defensif terhadap konflik energi, tercermin dari kenaikan Samsung Electronics yang menguat setelah laporan kinerja solid. Futures saham AS juga relatif stabil, menunjukkan investor belum sepenuhnya pricing worst-case scenario.
Negosiasi Buntu, Risiko Eskalasi Meningkat
Iran melalui kantor berita IRNA dilaporkan menolak proposal gencatan senjata dan mengajukan syarat yang lebih kompleks, termasuk pencabutan sanksi dan jaminan jalur aman permanen. Di sisi lain, Trump tetap mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran jika tuntutan tidak dipenuhi, meningkatkan probabilitas konflik terbuka dalam jangka sangat pendek.
Sentimen Makro Masih Jadi Penopang
Di luar geopolitik, data ekonomi AS menunjukkan sinyal campuran. Sektor jasa mulai melambat, namun pasar tenaga kerja masih solid. Kondisi ini membuat Federal Reserve cenderung mempertahankan stance “higher for longer”, yang menahan ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Pasar saat ini berada di persimpangan antara de-eskalasi vs escalation risk. Selama belum ada kepastian, volatilitas akan tetap tinggi.

