[Medan | 5 Januari 2026] Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington akan mengambil alih kendali Venezuela untuk sementara waktu hingga proses transisi pemerintahan berjalan. AS juga menyatakan niat memanfaatkan cadangan minyak Venezuela yang besar dan menyalurkannya kembali ke pasar global. Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Presiden Venezuela Nicolás Maduro dilaporkan ditangkap bersama istrinya.
Meski eskalasi geopolitik meningkat, pelaku pasar menilai dampaknya terhadap harga minyak mentah global cenderung terbatas dalam jangka pendek.
Harga Minyak Masih Stabil di Tengah Eskalasi
Pengamat komoditas dan Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono menilai pasar minyak global justru menunjukkan respons yang relatif tenang. Hingga awal Januari 2026, harga minyak Brent dan WTI masih bergerak di bawah US$60 per barel, bahkan sempat menyentuh area US$54,80 per barel pada pertengahan Desember 2025.
Menurut Wahyu, stabilnya harga minyak disebabkan oleh kondisi pasokan global yang sangat longgar. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan surplus pasokan minyak dunia mencapai 3,8 juta barel per hari pada 2026. Selain itu, produksi Venezuela saat ini hanya menyumbang sekitar 1% dari total pasokan global akibat sanksi berkepanjangan, sehingga gangguan jangka pendek dinilai tidak cukup kuat mengguncang pasar.
Faktor lain yang meredam lonjakan harga adalah sinyal dari AS yang justru ingin mengalirkan kembali minyak Venezuela ke pasar, sehingga dipersepsikan sebagai potensi tambahan suplai di masa depan.
Risiko Lonjakan Tetap Ada
Meski demikian, Wahyu mengingatkan potensi kenaikan harga tetap terbuka jika terjadi gangguan fisik di lapangan. Sabotase fasilitas produksi atau distribusi minyak oleh kelompok pendukung Maduro berpotensi mendorong harga minyak naik ke kisaran US$60–63 per barel dalam jangka pendek. Namun secara tren menengah hingga panjang, harga minyak masih diproyeksikan stabil atau cenderung menurun seiring surplus pasokan global.
Pandangan yang lebih berhati-hati disampaikan Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi. Menurutnya, eskalasi politik dapat memicu kekhawatiran pasar, terutama jika terjadi gangguan ekspor atau sanksi tambahan terhadap Venezuela. Dalam skenario tersebut, harga minyak Brent berpotensi melonjak ke kisaran US$75–80 per barel, tergantung pada durasi konflik dan respons OPEC+.
Implikasi ke Indonesia: Inflasi, Rupiah, dan Pasar Keuangan
Bagi Indonesia sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga minyak global berpotensi membawa dampak ganda. Dari sisi makro, inflasi energi berisiko meningkat, terutama jika harga BBM domestik tidak segera disesuaikan. Tekanan ini dapat membebani APBN melalui kenaikan subsidi energi serta memperlebar defisit transaksi berjalan akibat lonjakan nilai impor minyak.
Dari sisi pasar keuangan, kenaikan harga minyak yang disertai penguatan dolar AS berpotensi menekan rupiah dan mendorong capital outflow dari pasar obligasi dan saham. Yield Surat Berharga Negara (SBN) bisa terdorong naik seiring meningkatnya premi risiko global.
Namun, di tengah sentimen negatif tersebut, sektor komoditas berpeluang menjadi penyeimbang. Emiten batu bara dan CPO berpotensi mendapat sentimen positif dari kenaikan harga energi global, meskipun volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi selama ketidakpastian geopolitik berlanjut.

