[Medan | 3 Maret 2026] Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa rencana awal operasi militer terhadap Iran diproyeksikan berlangsung selama empat hingga lima pekan, namun menegaskan bahwa militer AS memiliki kemampuan untuk melanjutkan perang jauh lebih lama dari periode tersebut.
Berbicara dari Gedung Putih pada Senin, Trump memaparkan alasan pemerintahannya melancarkan perang terhadap Iran bersama Israel. Ia menilai Iran telah menimbulkan “ancaman serius” bagi Amerika Serikat, sekaligus kembali mengklaim bahwa serangan udara AS pada Juni tahun lalu telah menyebabkan “kehancuran total” program nuklir Iran.
Ancaman Rudal Iran Jadi Alasan Utama
Trump menyoroti perkembangan pesat program rudal balistik Iran yang menurutnya meningkat “secara cepat dan dramatis”, serta dianggap sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan AS dan pasukan Amerika yang ditempatkan di luar negeri.
Ia menyatakan bahwa Iran telah memiliki rudal yang mampu menjangkau Eropa dan pangkalan militer AS di berbagai wilayah, serta berpotensi mengembangkan kemampuan serangan hingga wilayah Amerika Serikat. Klaim tersebut kembali disampaikan tanpa disertai bukti terbuka dari pejabat pemerintah AS.
Pernyataan ini menandai perubahan narasi dari ancaman yang bersifat segera menjadi ancaman jangka menengah hingga panjang, dengan Trump menggambarkan rezim Iran sebagai kekuatan yang berpotensi semakin berbahaya di masa depan.
Isu Legalitas dan Ancaman Nuklir
Trump menegaskan bahwa pengembangan rudal Iran bertujuan melindungi program senjata nuklir negara tersebut dan menyulitkan upaya pihak luar untuk menghentikannya. Ia menyebut kepemilikan rudal jarak jauh dan senjata nuklir oleh Iran sebagai ancaman yang tidak dapat ditoleransi, tidak hanya bagi Timur Tengah, tetapi juga bagi rakyat Amerika.
Di sisi lain, berdasarkan hukum domestik AS dan hukum internasional, serangan terhadap negara lain harus didasarkan pada ancaman yang bersifat segera. Konstitusi AS juga mengatur bahwa deklarasi perang berada di tangan Kongres, sementara presiden hanya dapat bertindak sepihak dalam kondisi ancaman yang mendesak.
Korban Berjatuhan dan Eskalasi Regional
Trump juga memprediksi akan ada tambahan korban dari pihak militer AS, setelah Pentagon mengonfirmasi kematian sejumlah personel Amerika di kawasan Timur Tengah.
Hingga saat ini, tercatat sedikitnya 555 orang tewas di Iran, 13 korban di Lebanon, 10 di Israel, tiga di Uni Emirat Arab, dan dua di Irak, sementara Oman, Bahrain, dan Kuwait masing-masing melaporkan satu korban jiwa akibat serangan balasan Iran di kawasan regional.
Target Operasi dan Klaim Kemajuan
Menanggapi perkembangan terbaru, Trump kembali menegaskan bahwa sejak awal militer AS memperkirakan operasi akan berlangsung empat hingga lima pekan, dengan target utama mengakhiri kepemimpinan militer Iran.
Ia mengklaim bahwa operasi tersebut berjalan lebih cepat dari rencana awal, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat tinggi lainnya, termasuk kepala Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), dalam serangan AS–Israel.

