[Medan | 13 Januari 2026] Harga minyak mentah dunia mencatat kenaikan pada perdagangan Senin (12/1/2026), dipicu oleh kekhawatiran pasar bahwa pasokan minyak global bisa terganggu akibat ketegangan geopolitik di kawasan produsen utama. Kenaikan harga ini juga mencerminkan sensitivitas pasar terhadap potensi gangguan ekspor dari Iran, yang merupakan salah satu anggota penting OPEC.
Harga minyak Brent untuk kontrak Maret 2026 naik 0,8 persen ke sekitar US$63,87 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari 2026 meningkat sekitar 0,6 persen ke US$59,50 per barel pada Senin. Keduanya mencapai level penutupan tertinggi dalam beberapa pekan terakhir karena kekhawatiran pasokan yang meningkat.
Sentimen pasar dipicu oleh eskalasi kerusuhan dan protes besar-besaran di Iran, yang berpotensi menekan kemampuan ekspor minyak negara tersebut. Kekhawatiran ini kian menguat karena adanya ancaman dan tindakan keras terhadap demonstran, sementara para pekerja industri energi di Iran bahkan menyerukan aksi mogok yang bisa memperlambat produksi dan pengiriman minyak ke pasar global.
Meski demikian, prospek kenaikan harga masih tertahan oleh ekspektasi pasokan yang lebih stabil dari negara-negara OPEC lain, khususnya Venezuela. Pemerintah AS dan pihak berwenang Venezuela diperkirakan akan melanjutkan rencana pemulihan ekspor minyak dari negara tersebut setelah perubahan rezim, yang dapat menambah pasokan minyak di pasar global.
Meski ada tekanan geopolitik yang mendukung harga, analis dari sejumlah lembaga keuangan menyatakan bahwa tanpa gangguan nyata pada aliran minyak mentah, pasar tetap rentan terhadap dinamika pasokan global. Ekonom dari Goldman Sachs, misalnya, memperkirakan harga minyak cenderung turun sepanjang 2026 karena kelebihan pasokan global, meski risiko geopolitik dari Iran, Rusia, dan Venezuela akan terus menciptakan volatilitas harga.
Risiko yang Diamati Pasar
- Potensi penurunan ekspor Iran akibat gejolak politik domestik yang dapat mengurangi pasokan minyak mentah ke pasar global.
- Respons geopolitik yang belum jelas dari pemain besar seperti AS terhadap krisis di Iran.
- Kemungkinan peningkatan ekspor dari Venezuela, yang dapat menyeimbangkan sebagian tekanan pasokan.
Dengan demikian, meskipun harga minyak mencatat penguatan pada awal pekan ini, pasar masih memperhitungkan dua kekuatan berlawanan: risiko pasokan dari gangguan geopolitik versus potensi peningkatan pasokan dari produsen lain. Harga minyak dunia diperkirakan akan tetap volatile sepanjang 2026, tergantung berapa jauh konflik regional dan respons kebijakan terhadap kondisi produksi minyak global.

