[Medan | 3 Maret 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka menguat pada perdagangan pagi ini, naik sekitar 0,54% dan menyentuh area 8.059. Namun penguatan tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual kembali mendominasi pasar hingga IHSG berbalik melemah dan turun meninggalkan level psikologis 8.000.
Pembalikan arah pasar terjadi di tengah meningkatnya kecemasan investor global terhadap eskalasi konflik militer AS dan Iran, khususnya setelah muncul sinyal bahwa perang berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.
Trump: Durasi Perang Bisa Lebih dari Sebulan
Presiden AS Trump menyatakan bahwa operasi militer AS terhadap Iran awalnya diproyeksikan berlangsung selama empat hingga lima pekan. Namun, ia menegaskan bahwa AS memiliki kemampuan untuk melanjutkan operasi tersebut jauh melampaui jangka waktu tersebut jika diperlukan.
Pernyataan ini disampaikan Trump dalam pidatonya di Gedung Putih, menjadi komentar publik pertamanya sejak serangan diluncurkan. Ia menekankan bahwa AS “jauh lebih maju dari proyeksi awal”, merujuk pada tewasnya sejumlah pemimpin senior Iran dalam gelombang serangan awal.
Empat sasaran utama operasi ditegaskan kembali, yakni menghancurkan kemampuan rudal Iran, melumpuhkan kekuatan lautnya, memastikan Teheran tidak pernah memiliki senjata nuklir, serta menghentikan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di luar wilayahnya.
Risiko Energi Jadi Fokus Pasar
Ancaman terhadap stabilitas kawasan Teluk, terutama jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, langsung menjadi perhatian utama pelaku pasar. Kekhawatiran terganggunya pasokan energi global mendorong lonjakan harga minyak dan gas, sekaligus meningkatkan volatilitas di pasar komoditas.
Harga minyak mentah AS ditutup melonjak sekitar 6% ke kisaran US$71 per barel, sementara harga gas alam Eropa mencatat kenaikan tajam akibat gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Lonjakan harga energi ini menjadi sumber tekanan baru bagi pasar global, terutama bagi negara-negara pengimpor energi.
Kondisi tersebut mendorong pergeseran sentimen global ke mode risk-off, ditandai dengan penguatan dolar AS dan pelemahan mayoritas indeks saham dunia.
Dampak ke Pasar Domestik
Bagi pasar saham Indonesia, konflik AS–Iran memukul sentimen melalui beberapa kanal sekaligus. Pertama, kenaikan harga minyak meningkatkan ekspektasi inflasi dan memperbesar resiko pembengkakan subsidi energi, yang berpotensi menekan ruang fiskal.
Kedua, penguatan dolar AS di tengah sentimen risk-off global meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan membuat aliran dana asing ke pasar saham domestik menjadi lebih selektif. Ketiga, sektor-sektor yang sensitif terhadap harga energi dan biaya impor, seperti transportasi, aviasi, semen, dan manufaktur berbasis bahan baku impor, berisiko mengalami tekanan margin.
Kombinasi faktor tersebut membuat investor cenderung melakukan aksi ambil untung setelah reli awal, sehingga penguatan IHSG di pembukaan tidak berkelanjutan.
Tekanan Domestik Bertambah dari Inflasi
Dari dalam negeri, tekanan pasar juga diperkuat oleh data inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Februari 2026 mencapai 0,68% secara bulanan, tertinggi sejak April 2025, didorong terutama oleh kenaikan harga pangan menjelang Ramadan.
Secara tahunan, inflasi tercatat 4,76% (yoy), tertinggi hampir dua tahun terakhir dan jauh di atas ekspektasi pasar. Kondisi ini mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter dan menambah beban sentimen bagi pasar saham.
IHSG Masih Rawan Volatilitas
Dengan ketidakpastian durasi dan skala konflik yang masih tinggi, serta tekanan inflasi yang meningkat, pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam jangka pendek. Arah IHSG ke depan akan sangat bergantung pada dua faktor utama, yaitu perkembangan perang AS–Iran, khususnya risiko gangguan pasokan energi, serta respons kebijakan global terhadap lonjakan harga minyak dan tekanan inflasi. Selama risiko perang berkepanjangan belum mereda, sentimen pasar cenderung defensif dan penguatan IHSG berpotensi terbatas.

