[Medan | 10 Maret 2026] Harga minyak mentah dunia mulai menunjukkan tren penurunan sementara bursa saham Asia diperkirakan bergerak menguat pada perdagangan Selasa (10/3). Perubahan sentimen pasar ini mengikuti penutupan positif di Wall Street setelah Presiden Donald Trump memberikan sinyal bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi segera berakhir.
Kontrak berjangka (futures) indeks saham di Jepang, Korea Selatan, dan Hong Kong terpantau bergerak naik pada perdagangan pagi. Sentimen positif ini mengikuti penguatan indeks S&P 500 yang naik sekitar 0,8% pada perdagangan Senin (9/3) setelah sebelumnya sempat berada di zona merah. Di Australia, pasar saham bahkan melonjak lebih dari 1% saat pembukaan perdagangan.
Harga Minyak Turun, Dolar dan Yield AS Melemah
Penurunan harga energi juga menjadi salah satu faktor yang memperbaiki sentimen pasar. Harga minyak mentah West Texas Intermediate crude oil (WTI) dilaporkan merosot hingga 10% pada perdagangan Selasa (10/3), melanjutkan koreksi yang telah dimulai sejak sesi perdagangan New York setelah pernyataan Trump.
Di saat yang sama, imbal hasil US Treasury 10-Year menghentikan reli kenaikan yang telah berlangsung selama lima hari berturut-turut, sementara nilai tukar US Dollar mulai mengalami pelemahan.
Perubahan sentimen pasar ini dipicu oleh pernyataan Trump yang menyebut bahwa konflik dengan Iran berpotensi segera diselesaikan. Meski tidak memastikan perang akan sepenuhnya berakhir dalam waktu dekat, Trump menyebut operasi militer yang berlangsung saat ini berjalan lebih cepat dari jadwal dan tujuan utama militer AS disebut hampir sepenuhnya tercapai.
Pasar Sangat Sensitif terhadap Berita Geopolitik
Pergerakan pasar yang tajam dalam satu sesi perdagangan menunjukkan betapa sensitifnya investor terhadap setiap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Satu berita utama saja mampu memulihkan kerugian pasar dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
Namun demikian, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi karena investor masih menilai perkembangan konflik yang berubah cepat tanpa arah perdagangan yang benar-benar jelas.
Dilin Wu, analis strategi riset dari Pepperstone Group, mengatakan bahwa penguatan pasar saat ini lebih mencerminkan reli pemulihan setelah fase risk-off yang ekstrem, bukan perubahan sentimen menuju kondisi pasar yang sepenuhnya kembali berani mengambil risiko.
Pasar Minyak Masih Volatil
Pasar minyak mentah mengalami fluktuasi yang sangat tajam sepanjang perdagangan Senin. Harga minyak sempat melonjak mendekati US$120 per barel pada awal sesi sebelum akhirnya terkoreksi setelah sejumlah negara ekonomi besar mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak darurat untuk menstabilkan pasokan global.
Meski harga mulai menurun, risiko gangguan pasokan energi masih membayangi pasar. Jalur distribusi minyak strategis di Selat Hormuz masih dilaporkan tertutup secara efektif, sehingga memaksa produsen utama di kawasan Teluk Persia seperti Arab Saudi untuk membatasi produksi.
Para menteri keuangan dari kelompok G7 juga menyatakan kesiapan mereka untuk mengambil langkah guna menjaga stabilitas pasokan energi global, termasuk opsi pelepasan cadangan minyak strategis. Namun hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai pelaksanaan langkah tersebut.
Di sisi lain, laporan Reuters menyebut bahwa pemerintahan Trump tengah meninjau sejumlah opsi untuk menekan harga energi, termasuk kemungkinan membatasi ekspor minyak Amerika Serikat dan menangguhkan beberapa pajak federal.
Carol Schleif dari BMO Private Wealth mengatakan bahwa pasar diperkirakan masih akan bergerak sangat volatil dalam jangka pendek karena investor terus merespons perkembangan terbaru dari konflik geopolitik tersebut.
IHSG Berpeluang Menguat Secara Teknikal
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan berpotensi mengalami rebound secara teknikal pada perdagangan Selasa (10/3) setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah 3,27% ke level 7.337.
Technical Analyst dari BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengatakan bahwa peluang penguatan IHSG didukung oleh koreksi harga minyak global serta kondisi sejumlah saham yang telah berada di area support dan oversold.
Secara teknikal, ia memperkirakan IHSG memiliki area support pada kisaran 7.200–7.300, dengan level resistance berada di rentang 7.400–7.500. Selain itu, pelaku pasar juga menantikan rilis data penjualan ritel Indonesia yang berpotensi memberikan arah tambahan bagi pergerakan pasar saham domestik.

