[Medan | 1 April 2026] PT Timah Tbk (TINS) akan memulai groundbreaking proyek pabrik logam tanah jarang (Rare Earth Elements/REE) pada 20 Mei 2026 sebagai bagian dari strategi percepatan hilirisasi mineral strategis nasional. Proyek ini ditargetkan mulai menghasilkan monetisasi dalam waktu maksimal dua tahun, sejalan dengan arahan pemerintah untuk mendorong nilai tambah komoditas dalam negeri.
Langkah ini menandai transformasi TINS dari sekadar produsen timah menjadi pemain dalam rantai nilai mineral kritikal yang memiliki permintaan global tinggi, khususnya untuk industri teknologi dan energi bersih.
Skema Konsorsium dan Peran Strategis Perminas
Dalam pengembangan proyek ini, TINS menggandeng Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) melalui skema joint operations dalam konsorsium yang dipimpin pemerintah. Struktur kerja sama ini membagi peran secara jelas:
- TINS → penyedia bahan baku REE
- Perminas → penyedia teknologi dan platform operasional
Kolaborasi ini mempercepat pengembangan industri karena menggabungkan kekuatan sumber daya dan teknologi, sekaligus menekan risiko eksekusi proyek.
Potensi Sumber Daya dan Validasi Cadangan
Dari sisi resource, hasil riset bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan potensi monasit di wilayah IUP TINS mencapai sekitar 1,2 juta ton. Monasit merupakan mineral kunci yang mengandung unsur logam tanah jarang bernilai tinggi.
Saat ini, perseroan masih dalam tahap validasi melalui eksplorasi lanjutan dan proses pengeboran untuk memastikan keekonomian cadangan sebelum masuk ke tahap produksi penuh.

