[Medan | 12 Januari 2026] PT Bukit Asam Tbk (PTBA) kembali mengaktifkan agenda hilirisasi batubara dengan melanjutkan proyek gasifikasi batubara menjadi Dimethyl Ether (DME) yang ditargetkan mulai berjalan pada 2026. Proyek ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mempercepat hilirisasi mineral dan batubara serta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.
Pemerintah sebelumnya menyampaikan bahwa terdapat enam proyek hilirisasi yang akan memasuki tahap groundbreaking mulai awal Februari 2026, di mana proyek DME menjadi salah satu prioritas utama. DME diproyeksikan sebagai substitusi LPG untuk kebutuhan domestik, terutama rumah tangga dan sektor energi, guna memperkuat ketahanan energi nasional.
PTBA sendiri sempat menggarap proyek serupa, namun proyek tersebut terhenti setelah mundurnya Air Products & Chemicals asal Amerika Serikat sebagai mitra strategis. Meski demikian, manajemen PTBA menegaskan komitmen perusahaan untuk terus mendukung hilirisasi batubara dengan membuka peluang kerja sama baru, termasuk dengan mitra global yang memiliki teknologi gasifikasi yang telah teruji.
Saat ini, PTBA masih melakukan koordinasi intensif dengan MIND ID selaku induk holding, serta mengikuti arahan strategis pemerintah dan BPI Danantara. Perusahaan juga menyiapkan cadangan batubara yang dinilai memadai untuk mendukung proyek DME dalam jangka panjang, sembari melakukan sinkronisasi lanjutan terhadap studi kelayakan terbaru, termasuk kebutuhan investasi dan skema pendanaan.
Manajemen menilai keberhasilan proyek DME sangat bergantung pada kesiapan ekosistem pendukung, mulai dari kepastian teknologi, struktur pembiayaan yang kompetitif, hingga dukungan regulasi dan kepastian tata kelola investasi. Evaluasi proyek terus dilakukan secara komprehensif agar proyek ini mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi perusahaan dan negara.
Analisis Pasar Modal
Dari perspektif pasar modal, rencana realisasi proyek DME berpotensi menimbulkan tekanan jangka pendek terhadap arus kas PTBA. Kebutuhan belanja modal (capex) yang besar pada fase konstruksi dinilai belum diimbangi potensi pendapatan langsung, sehingga meningkatkan risiko tekanan likuiditas dalam jangka pendek.
Selain itu, risiko keekonomian proyek masih menjadi perhatian utama, terutama terkait perbandingan harga jual DME dengan LPG. Keberhasilan proyek sangat ditentukan oleh keterlibatan mitra strategis dengan teknologi matang, skema project financing yang terpisah dari neraca induk, serta kepastian offtake agreement dengan pemerintah dan PT Pertamina (Persero) dengan harga yang ekonomis.
Di luar proyek hilirisasi, prospek kinerja PTBA pada 2026 cenderung moderat. Kebijakan pemangkasan produksi batubara nasional berpotensi menekan volume penjualan, khususnya ekspor yang selama ini menjadi penyumbang margin terbesar. Meski demikian, posisi PTBA sebagai pemasok utama batubara domestik dinilai tetap menjadi penopang kinerja di tengah penurunan produksi nasional.

