[Medan | 12 Februari 2026] Pertemuan lanjutan antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Morgan Stanley Capital International (MSCI) dinilai menjadi sinyal positif bagi persepsi investor global terhadap pasar saham Indonesia dalam jangka menengah. Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, menilai langkah reformasi struktural yang dilakukan pasca keputusan MSCI melakukan freeze bulan lalu justru menjadi faktor penarik baru bagi pasar domestik.
Sejumlah agenda pembenahan yang tengah dijalankan, seperti peningkatan keterbukaan data pemegang saham hingga tingkat ultimate beneficial owner (UBO) di atas 1%, granulasi data investor menjadi 28 subkategori, serta rencana peningkatan free float minimum menjadi 15% dalam tiga tahun, dinilai sejalan dengan standar tata kelola yang selama ini menjadi perhatian lembaga indeks global.
Daya Tarik IHSG di Mata Investor Global
Menurut Erindra, kombinasi valuasi saham Indonesia yang relatif murah, kepemilikan asing yang sudah berada di level rendah, serta potensi pemulihan pertumbuhan ekonomi dapat kembali meningkatkan daya tarik IHSG di mata investor global. Hal ini terutama berlaku apabila reformasi pasar modal mampu menunjukkan kemajuan yang konsisten dan dikomunikasikan dengan baik kepada lembaga indeks internasional.
Ia menambahkan bahwa sejauh ini progres pembenahan pasar modal dan komunikasi dengan lembaga global dinilai berjalan ke arah yang konstruktif, sehingga membuka ruang perbaikan persepsi jangka menengah terhadap pasar saham Indonesia.
Penundaan FTSE Russell Dinilai Tidak Mengganggu
Terkait penundaan evaluasi indeks oleh FTSE Russell, Erindra menilai dampaknya terhadap pasar relatif terbatas. Hal ini mengingat kepemilikan investor asing di pasar saham Indonesia telah menyusut signifikan setelah arus keluar dana yang cukup besar sejak awal tahun, sehingga potensi tekanan tambahan dari sisi teknikal dinilai tidak terlalu besar.
Update Pertemuan Kedua BEI–MSCI
Bursa Efek Indonesia kembali menggelar pertemuan dengan MSCI pada Rabu (11/2/2026) sebagai tindak lanjut dari diskusi awal yang dilakukan pada 2 Februari 2026. Pertemuan tersebut dilanjutkan dengan pengiriman dokumen teknis pada 5 Februari 2026.
Pelaksana Tugas Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyampaikan bahwa dalam pertemuan kedua ini BEI menambahkan satu rencana aksi baru, yakni pembukaan data shareholders concentration list atau daftar saham yang terindikasi memiliki kepemilikan saham terkonsentrasi. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan transparansi dan memperkuat integritas pasar.
Meskipun begitu, Jeffrey menegaskan bahwa seluruh isi dan kesimpulan pertemuan terikat perjanjian kerahasiaan, sehingga BEI hanya dapat menyampaikan poin-poin umum tanpa merinci detail pembahasan maupun hasil akhir.

