[Medan | 13 Januari 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada awal perdagangan Senin (12/1), sempat jatuh lebih dari 2 persen ke level 8.715 dari posisi pembukaan di 8.991. Tekanan jual yang masif terutama terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar, sehingga mendorong indeks bergerak volatil sepanjang sesi perdagangan.
Memasuki penutupan sesi pertama Selasa (13/1), IHSG menunjukkan upaya pemulihan dengan ditutup menguat tipis 0,13 persen ke level 8.947,96. Namun tekanan kembali muncul pada sesi berjalan, di mana hingga pukul 14.40 WIB indeks turun ke area 8.861 dengan mayoritas saham berada di zona merah. Menjelang penutupan, indeks kembali menanjak dan bergerak di kisaran 8.887, mencerminkan mulai munculnya aksi bargain hunting.
BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG masih memiliki peluang rebound terbatas dengan area support di rentang 8.715–8.778 dan resistance terdekat di kisaran 8.950–8.990. Pergerakan indeks ke depan akan sangat dipengaruhi oleh stabilitas nilai tukar rupiah serta sentimen eksternal, termasuk eskalasi geopolitik AS dengan Venezuela dan Iran, serta rilis data global seperti neraca perdagangan Tiongkok dan penjualan ritel Amerika Serikat.
Dari eksternal, sentimen pasar regional dan global relatif konstruktif seiring penguatan indeks Wall Street. Dow Jones ditutup naik 0,17 persen, diikuti S&P 500 yang menguat 0,16 persen dan Nasdaq yang naik lebih dari 0,26 persen. Kenaikan harga komoditas utama seperti emas, minyak, dan nikel juga menjadi faktor pendukung bagi saham berbasis sumber daya alam di pasar domestik.
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup melemah 0,58 persen ke level 8.884. Meski indeks terkoreksi, investor asing justru mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp101,96 miliar, dengan akumulasi terbesar pada saham BBRI, ANTM, dan TLKM. Hal ini mengindikasikan bahwa koreksi indeks lebih bersifat teknikal dan belum mencerminkan pembalikan tren secara fundamental.
Tekanan utama terhadap IHSG datang dari kejatuhan saham-saham grup Prajogo Pangestu, seperti BREN, PTRO, BRPT, TPIA, dan AMMN yang turun signifikan dan menjadi pemberat indeks. Di sisi lain, sejumlah saham lapis kedua dan ketiga justru mencatatkan lonjakan tajam hingga menyentuh auto reject atas, menandakan rotasi sektor dan selektivitas investor masih berlangsung di tengah volatilitas pasar.

