[Medan | 16 Maret 2026] Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diperkirakan berlangsung terbatas seiring waktu perdagangan yang sangat singkat. Bursa Efek Indonesia hanya membuka perdagangan selama dua hari, yakni 16–17 Maret 2026, sebelum memasuki periode libur panjang Nyepi dan Lebaran pada 18–24 Maret. Bursa dijadwalkan kembali beroperasi pada 25 Maret 2026.
Kondisi tersebut membuat sebagian investor cenderung bersikap lebih berhati-hati dan memilih mengurangi eksposur risiko menjelang periode libur yang cukup panjang.
Tekanan Teknikal Masih Terbuka
Analis teknikal dari BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai IHSG masih berpotensi bergerak melemah setelah sebelumnya mengalami breakdown dari area support penting di level 7.250. Menurutnya, pelemahan lanjutan masih berpeluang membawa indeks menuju area support berikutnya di kisaran 7.000–7.100.
Untuk pekan ini, level support IHSG diperkirakan berada pada kisaran 7.000–7.100, sementara resistance terdekat berada di area 7.300–7.400. Sementara itu, Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan pergerakan IHSG pada awal pekan masih rawan koreksi dengan support di level 7.071 dan resistance di 7.248.
Sentimen Global Masih Membayangi Pasar
Sentimen global tetap menjadi faktor utama yang mempengaruhi arah pasar. Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memicu lonjakan harga energi global. Harga minyak jenis Brent Crude bahkan kembali menembus US$100 per barel, menyusul gangguan pasokan energi akibat penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Lonjakan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi global, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral dunia.
Pelaku pasar juga menunggu hasil pertemuan Federal Reserve pada 18 Maret, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%. Namun investor tetap mencermati proyeksi ekonomi terbaru bank sentral tersebut, terutama untuk melihat bagaimana otoritas moneter AS menilai risiko inflasi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Di sisi lain, pasar juga memantau berbagai langkah kebijakan dari pemerintahan Donald Trump, yang berpotensi mempengaruhi arah perdagangan global maupun pasar energi.
Sentimen Domestik
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati perkembangan kebijakan fiskal pemerintah Indonesia di tengah kenaikan harga minyak global. Pemerintah saat ini masih mengkaji kemungkinan memperlebar batas defisit APBN di atas 3% untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga energi terhadap beban fiskal.
Namun Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah lebih cenderung melakukan efisiensi dan penghematan anggaran, mengingat masih terdapat ruang untuk meningkatkan efektivitas belanja negara.
Selain itu, pelaku pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 17 Maret, yang secara luas diperkirakan akan mempertahankan BI Rate di level 4,75%.
Investor Cenderung Ambil Untung
Dengan waktu perdagangan yang terbatas serta tingginya ketidakpastian global, sebagian investor diperkirakan akan melakukan aksi taking profit menjelang periode libur panjang.
Libur bursa selama hampir satu minggu membuat pelaku pasar tidak dapat merespons secara langsung berbagai perkembangan global yang mungkin terjadi selama periode tersebut. Konflik geopolitik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak, hingga potensi kebijakan baru dari pemerintahan Trump menjadi faktor risiko yang berpotensi memicu volatilitas ketika pasar kembali dibuka.
Dalam kondisi seperti ini, sebagian investor biasanya memilih merealisasikan sebagian keuntungan dan meningkatkan porsi kas sebagai langkah antisipasi terhadap potensi pergerakan pasar setelah libur panjang.
Di sisi lain, sektor berbasis komoditas diperkirakan relatif lebih bertahan, terutama perusahaan yang berkaitan dengan energi, batu bara, dan minyak sawit mentah (CPO) seiring kenaikan harga komoditas global.

