[Medan | 24 Februari 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau mendadak turun lebih dari 1% pada sesi II perdagangan hari Selasa (24/2/2026), seiring memburuknya sentimen global dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap berbagai risiko eksternal maupun domestik.
Wall Street Anjlok, Menular ke Pasar Global
Tekanan terhadap IHSG tidak terlepas dari aksi jual tajam di Wall Street pada perdagangan Senin (waktu setempat). Tiga indeks utama AS, yaitu Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite, ditutup melemah lebih dari 1%.
Aksi jual tersebut dipicu melemahnya selera risiko investor akibat kekhawatiran disrupsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap berbagai sektor bisnis. Saham sektor keuangan dan teknologi menjadi yang paling tertekan, mencerminkan strategi investor global yang cenderung sell first, assess later di tengah ketidakpastian.
Kebijakan Trump dan Putusan Mahkamah Agung Tambah Volatilitas
Volatilitas pasar AS juga diperparah oleh ketidakpastian kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump. Pasar merespons putusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan Trump melampaui kewenangannya dalam memberlakukan tarif resiprokal berbasis undang-undang darurat ekonomi.
Putusan tersebut memicu respons keras dari Trump, yang kembali mengancam akan memberlakukan tarif impor sementara sebesar 15% terhadap seluruh barang impor. Ancaman ini dinilai pasar berpotensi menghidupkan kembali ketegangan perdagangan global dan meningkatkan ketidakpastian arah kebijakan AS.
Eskalasi AS–Iran Picu Kekhawatiran Geopolitik
Di saat yang sama, meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran turut memperburuk sentimen global. Pernyataan keras Trump terhadap Iran memicu kekhawatiran pasar akan potensi konflik militer di Timur Tengah, kawasan strategis bagi pasokan energi dunia.
Risiko geopolitik tersebut mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke aset aman, tercermin dari lonjakan harga emas lebih dari 2,5%. Kondisi ini memperkuat tren risk-off yang menekan pasar saham global, termasuk di kawasan emerging markets.
China Tahan Stimulus, Katalis Regional Terbatas
Dari Asia, sentimen negatif datang dari keputusan People’s Bank of China yang mempertahankan Loan Prime Rate (LPR) tenor satu tahun di 3,0% dan tenor lima tahun di 3,5%. Kebijakan ini mengindikasikan otoritas moneter China belum terburu-buru memberikan stimulus tambahan. Pasar menilai langkah tersebut mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan dan menjaga stabilitas keuangan, namun di sisi lain membatasi munculnya katalis positif baru bagi pasar regional dalam jangka pendek.
Defisit APBN Jadi Perhatian
Pasar juga mencermati realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 31 Januari 2026 yang mencatat defisit Rp 54,6 triliun atau sekitar 0,21% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Realisasi belanja negara tercatat Rp 227,3 triliun atau 5,9% dari pagu APBN, sementara pendapatan negara sebesar Rp 172,7 triliun.
Dalam jangka pendek, defisit ini dipandang sebagai strategi percepatan belanja untuk menopang pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026. Namun, dalam jangka menengah–panjang, pasar tetap mewaspadai risiko pelebaran defisit fiskal apabila tekanan terhadap APBN tidak dikelola secara hati-hati.
Ketidakpastian INA Bebani Sentimen Domestik
Dari dalam negeri, investor turut mencermati dinamika kelembagaan, khususnya ketidakpastian kepemimpinan di Indonesia Investment Authority (INA). Mundurnya salah satu Chief Investment Officer serta belum ditetapkannya CEO definitif memunculkan kekhawatiran terhadap kesinambungan strategi investasi dan arus co-investment asing ke Indonesia. Meski dampaknya tidak langsung ke fundamental emiten, kondisi ini dinilai membebani sentimen dan kepercayaan investor.
Kesimpulan: Tekanan Datang dari Banyak Arah
Secara keseluruhan, kejatuhan IHSG mencerminkan kombinasi tekanan global dan domestik. Aksi jual di Wall Street akibat kekhawatiran disrupsi AI, eskalasi geopolitik AS–Iran, ketidakpastian kebijakan tarif AS, minimnya stimulus tambahan dari China, serta kehati-hatian terhadap risiko fiskal dan kelembagaan di dalam negeri mendorong investor melakukan aksi jual secara luas.
Ke depan, IHSG diperkirakan masih bergerak volatil, dengan pelaku pasar cenderung selektif sambil menunggu kejelasan perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan ekonomi, baik di tingkat global maupun domestik.

