[Medan | 29 Agustus 2025] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH). Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (28/8/2025), IHSG ditutup menguat 0,2% di level 7.952,08 yang merupakan rekor tertinggi penutupan. Pada sesi pembukaan, IHSG bahkan sempat melesat ke level 8.022,75, mencetak ATH intraday terbaru, sebelum sempat menyentuh titik terendah di 7.941,93.
Total nilai transaksi mencapai Rp16,62 triliun dari 44,48 miliar saham yang berpindah tangan, dengan frekuensi mencapai 2,08 juta kali. Dari sisi pergerakan, sebanyak 377 saham menguat, 288 saham melemah, sementara 140 saham stagnan.
Penguatan IHSG terutama ditopang sektor perindustrian yang naik 2,58%, sektor teknologi 1,85%, dan sektor konsumen non-primer 1,56%, disusul sektor transportasi yang menguat 1%. Saham kesehatan turut menopang dengan kenaikan 0,74%.
Dari jajaran emiten, saham perindustrian menjadi motor penggerak. Saham PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) melesat 25%, PT Voksel Electric Tbk (VOKS) naik 24,7%, dan PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) menguat 18,5%. Saham teknologi juga berperan besar, dengan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) melejit 6,57%, PT IndoInternet Tbk (EDGE) naik 2,11%, serta PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menguat 1,14%.
Saham unggulan LQ45 tak ketinggalan mencatatkan kinerja positif. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) naik 5,24%, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 5,02%, PT Bank Jago Tbk (ARTO) 3,98%, dan PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) 3%. Saham ritel dan konsumer juga bergerak naik, antara lain PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) 1,75%, PT Astra International Tbk (ASII) 1,36%, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) 1,19%, serta PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) 0,86%.
Sejalan dengan pasar domestik, mayoritas bursa Asia turut menguat. Indeks CSI 300 China naik 1,77%, Shenzhen Composite 1,55%, Shanghai Composite 1,14%, Nikkei 225 Jepang 0,73%, TOPIX Jepang 0,63%, KOSPI Korea 0,29%, Strait Times Singapura 0,19%, dan SETI Thailand 0,17%.
Kinerja IHSG turut didukung penguatan rupiah yang terapresiasi 0,09% ke level Rp16.345 per dolar AS. Menguatnya mata uang Garuda sejalan dengan pelemahan dolar AS secara global. Indeks DXY stagnan di level 98,049, atau melemah 0,18% dibanding hari sebelumnya.
Sentimen positif terhadap aset emerging market juga meningkat seiring fokus pasar pada data PDB AS dan pidato pejabat The Fed yang akan dirilis Kamis malam waktu setempat. Pelemahan dolar AS kian diperkuat dengan dinamika politik di Amerika Serikat, setelah Presiden Donald Trump memberhentikan Anggota Dewan Gubernur The Fed, Lisa Cook, terkait dugaan pemalsuan data KPR. Langkah ini dinilai sebagai upaya Trump memperkuat pengaruh dalam arah kebijakan moneter yang lebih longgar.
Probabilitas penurunan suku bunga acuan The Fed pada rapat September semakin besar. Berdasarkan CME FedWatch, peluang pemangkasan 25 basis poin menjadi 4–4,25% kini mencapai 87,3%, naik signifikan dari 75% sepekan sebelumnya.