[Medan | 21 Januari 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah tajam pada perdagangan Rabu (21/1/2026). IHSG dibuka turun 0,44% ke level 9.094 dan hingga pukul 10.33 WIB terkoreksi lebih dalam sebesar 1,08% ke posisi 9.035, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor di tengah kombinasi tekanan global dan sentimen domestik.
Tekanan utama datang dari meningkatnya sentimen risk-off global akibat memanasnya ketegangan geopolitik. Retorika Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Greenland, disertai ancaman tarif terhadap sejumlah negara Eropa, meningkatkan ketidakpastian perdagangan global dan mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham emerging markets seperti Indonesia.
Dari pasar global, lonjakan yield obligasi pemerintah Jepang ke level tertinggi dalam beberapa tahun turut menekan sentimen. Kenaikan yield tersebut dipicu ekspektasi pemilu lebih awal dan potensi perubahan arah kebijakan fiskal–moneter Jepang. Kondisi ini meningkatkan daya tarik aset domestik Jepang dan memicu rebalancing portofolio global, termasuk potensi penarikan dana dari pasar luar negeri. Dampaknya bagi Indonesia bersifat tidak langsung, namun tercermin melalui tekanan pada arus modal dan nilai tukar.
Di dalam negeri, pelemahan Rupiah yang telah menyentuh area Rp17.000 per dolar AS mempersempit ruang kebijakan moneter. Pasar menilai Bank Indonesia hampir pasti mempertahankan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar hari ini guna menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor.
Menjelang pengumuman RDG BI, sikap wait and see mendominasi pergerakan pasar. Investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, khususnya saham-saham yang sensitif terhadap arus dana asing.
Tekanan domestik juga datang dari isu kelembagaan Bank Indonesia. Mundurnya salah satu Deputi Gubernur BI dan munculnya nama Wakil Menteri Keuangan sebagai calon pengganti memunculkan kekhawatiran pasar terhadap potensi melemahnya independensi bank sentral. Persepsi meningkatnya pengaruh fiskal terhadap otoritas moneter dinilai sensitif, terutama di tengah tekanan nilai tukar dan kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar.
Dalam jangka pendek, faktor persepsi dan kredibilitas kebijakan dinilai menjadi penentu utama arah aliran modal, di samping dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. Secara keseluruhan, pelemahan IHSG hari ini mencerminkan akumulasi tekanan eksternal dan domestik, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik global, lonjakan yield obligasi Jepang, tekanan terhadap Rupiah, sikap wait and see menjelang RDG BI, hingga kekhawatiran terhadap independensi Bank Indonesia.

