[Medan | 17 Maret 2026] Pasar saham kawasan Asia-Pasifik berpotensi dibuka menguat pada perdagangan Selasa (17/3/2026), mengikuti penguatan S&P 500 dan indeks utama Wall Street pada sesi sebelumnya. Sentimen positif muncul setelah harga minyak dunia mulai mereda, meskipun pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.
Penguatan ini terjadi di tengah kabar bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berencana menunda pertemuan dengan Presiden China, Xi Jinping, selama sekitar satu bulan atau lebih. Pertemuan yang semula dijadwalkan berlangsung pada akhir Maret itu ditunda karena Trump memilih tetap berada di Washington, D.C. untuk memantau perkembangan konflik dengan Iran.
Harga Minyak Mulai Mereda
Harga minyak sempat mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Senin (16/3). Kontrak Brent Crude turun 2,84% menjadi sekitar US$100,21 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 5,28% ke level US$93,50 per barel.
Pada perdagangan Selasa pagi, harga minyak kembali bergerak naik, namun masih berada di bawah level tertinggi sebelumnya. Brent Crude naik sekitar 1% ke level US$101,58 per barel, sedangkan West Texas Intermediate menguat 2% ke kisaran US$95,47 per barel.
Penurunan harga minyak ini memberikan ruang bagi pasar keuangan global untuk pulih setelah volatilitas tinggi yang dipicu oleh ketegangan geopolitik serta gangguan pasokan energi dari kawasan Selat Hormuz.
Bursa Asia Ikuti Penguatan Wall Street
Sejumlah indeks utama Asia mencatatkan penguatan pada awal perdagangan. Indeks S&P/ASX 200 di Australia naik sekitar 0,27%, menjelang ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia menjadi 4,1%, yang merupakan level tertinggi sejak April 2025. Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik sekitar 0,75%, sementara Topix menguat lebih dari 1%.
Penguatan lebih besar terlihat di Korea Selatan, di mana Kospi melonjak 2,94%, sedangkan Kosdaq yang berisi saham kapitalisasi kecil naik sekitar 1,53%. Kenaikan tersebut didorong oleh reli saham teknologi, termasuk SK Hynix dan Samsung Electronics, yang masing-masing menguat lebih dari 3% dan 4%.
Sentimen Teknologi Dorong Wall Street
Penguatan saham teknologi juga menjadi pendorong utama kenaikan di Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Indeks Dow Jones Industrial Average naik sekitar 0,83%, sementara S&P 500 menguat 1,01% dan Nasdaq Composite naik 1,22%. Sentimen positif datang dari Nvidia, setelah CEO perusahaan tersebut Jensen Huang memproyeksikan potensi pemesanan chip kecerdasan buatan (AI) hingga US$1 triliun hingga tahun 2027.
Perang Iran Masih Menjadi Faktor Utama
Meski pasar saham menguat, investor masih mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kepala strategi pasar BNY, Bob Savage, mengatakan bahwa selama konflik masih berlangsung, pergerakan harga minyak akan menjadi penentu utama arah pasar global. Ia menilai perkembangan situasi di Selat Hormuz akan terus menjadi penggerak utama sentimen investor dalam waktu dekat.
Fokus Beralih ke Keputusan Bank Sentral
Selain perkembangan geopolitik, investor juga akan mencermati keputusan kebijakan moneter sejumlah bank sentral utama dunia pada pekan ini. Pertemuan kebijakan Federal Reserve dijadwalkan berlangsung pada 17–18 Maret, sementara Bank of Japan akan mengumumkan keputusan suku bunga pada 19 Maret. Pasar secara luas memperkirakan bank sentral tersebut akan mempertahankan suku bunga acuannya di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, International Energy Agency menyatakan masih memiliki cadangan minyak darurat tambahan yang dapat dilepaskan ke pasar apabila gangguan pasokan energi global semakin memburuk. Dengan kondisi tersebut, pergerakan pasar saham Asia dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika harga energi serta perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.

