IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Bisnis

Harga Minyak Turun, Bursa Asia Siap Menghijau Hari Ini?

By Aurelia Tanu 2 hours ago Bisnis
Image source: AP/ philstar.com
SHARE

[Medan | 17 Maret 2026] Pasar saham kawasan Asia-Pasifik berpotensi dibuka menguat pada perdagangan Selasa (17/3/2026), mengikuti penguatan S&P 500 dan indeks utama Wall Street pada sesi sebelumnya. Sentimen positif muncul setelah harga minyak dunia mulai mereda, meskipun pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.

Contents
Harga Minyak Mulai MeredaBursa Asia Ikuti Penguatan Wall StreetSentimen Teknologi Dorong Wall StreetPerang Iran Masih Menjadi Faktor UtamaFokus Beralih ke Keputusan Bank Sentral

Penguatan ini terjadi di tengah kabar bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berencana menunda pertemuan dengan Presiden China, Xi Jinping, selama sekitar satu bulan atau lebih. Pertemuan yang semula dijadwalkan berlangsung pada akhir Maret itu ditunda karena Trump memilih tetap berada di Washington, D.C. untuk memantau perkembangan konflik dengan Iran.

Harga Minyak Mulai Mereda

Harga minyak sempat mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Senin (16/3). Kontrak Brent Crude turun 2,84% menjadi sekitar US$100,21 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 5,28% ke level US$93,50 per barel.

Pada perdagangan Selasa pagi, harga minyak kembali bergerak naik, namun masih berada di bawah level tertinggi sebelumnya. Brent Crude naik sekitar 1% ke level US$101,58 per barel, sedangkan West Texas Intermediate menguat 2% ke kisaran US$95,47 per barel.

Penurunan harga minyak ini memberikan ruang bagi pasar keuangan global untuk pulih setelah volatilitas tinggi yang dipicu oleh ketegangan geopolitik serta gangguan pasokan energi dari kawasan Selat Hormuz.

Bursa Asia Ikuti Penguatan Wall Street

Sejumlah indeks utama Asia mencatatkan penguatan pada awal perdagangan. Indeks S&P/ASX 200 di Australia naik sekitar 0,27%, menjelang ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia menjadi 4,1%, yang merupakan level tertinggi sejak April 2025. Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik sekitar 0,75%, sementara Topix menguat lebih dari 1%. 

Penguatan lebih besar terlihat di Korea Selatan, di mana Kospi melonjak 2,94%, sedangkan Kosdaq yang berisi saham kapitalisasi kecil naik sekitar 1,53%. Kenaikan tersebut didorong oleh reli saham teknologi, termasuk SK Hynix dan Samsung Electronics, yang masing-masing menguat lebih dari 3% dan 4%.

Sentimen Teknologi Dorong Wall Street

Penguatan saham teknologi juga menjadi pendorong utama kenaikan di Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Indeks Dow Jones Industrial Average naik sekitar 0,83%, sementara S&P 500 menguat 1,01% dan Nasdaq Composite naik 1,22%. Sentimen positif datang dari Nvidia, setelah CEO perusahaan tersebut Jensen Huang memproyeksikan potensi pemesanan chip kecerdasan buatan (AI) hingga US$1 triliun hingga tahun 2027.

Perang Iran Masih Menjadi Faktor Utama

Meski pasar saham menguat, investor masih mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kepala strategi pasar BNY, Bob Savage, mengatakan bahwa selama konflik masih berlangsung, pergerakan harga minyak akan menjadi penentu utama arah pasar global. Ia menilai perkembangan situasi di Selat Hormuz akan terus menjadi penggerak utama sentimen investor dalam waktu dekat.

Fokus Beralih ke Keputusan Bank Sentral

Selain perkembangan geopolitik, investor juga akan mencermati keputusan kebijakan moneter sejumlah bank sentral utama dunia pada pekan ini. Pertemuan kebijakan Federal Reserve dijadwalkan berlangsung pada 17–18 Maret, sementara Bank of Japan akan mengumumkan keputusan suku bunga pada 19 Maret. Pasar secara luas memperkirakan bank sentral tersebut akan mempertahankan suku bunga acuannya di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sementara itu, International Energy Agency menyatakan masih memiliki cadangan minyak darurat tambahan yang dapat dilepaskan ke pasar apabila gangguan pasokan energi global semakin memburuk.  Dengan kondisi tersebut, pergerakan pasar saham Asia dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika harga energi serta perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.

 

You Might Also Like

BUMI Targetkan Tambang Tembaga dan Emas Wolfram Mulai Beroperasi Tahun Ini

Jelang Libur Panjang Lebaran, IHSG Bakal Kemana?

BBCA Setujui Dividen Final Rp 281 per Saham, atau Setara 72% dari Laba 2025

Harga Minyak Kembali Tembus US$ 100 per Barel, Bursa Asia Bakal Melemah Lagi?

DSSA Bakal Stock Split 1:25, Harga Saham Bakal Turun ke Kisaran Rp 3.100?

TAGGED: bursa asia, IHSG, IHSG hari ini
Aurelia Tanu March 17, 2026 March 17, 2026
Previous Article BUMI Targetkan Tambang Tembaga dan Emas Wolfram Mulai Beroperasi Tahun Ini
Next Article IEA Siap Lepas Lebih Banyak Candangan Minyak di Tengah Perang Iran-AS
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?