[Medan | 13 Maret 2026] Pasar saham dan obligasi di Asia diperkirakan akan mengikuti pelemahan yang terjadi di Wall Street pada perdagangan Jumat (13/3). Lonjakan harga minyak mentah kembali memicu kekhawatiran investor bahwa konflik di Iran dapat memperburuk gangguan pasokan energi global dan mendorong inflasi.
Kontrak berjangka indeks saham untuk pasar Jepang, Hong Kong, dan Australia tercatat kompak bergerak di zona merah pada awal perdagangan Asia.
Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 turun 1,5% dan menyentuh level terendah sejak November. Sementara itu, Nasdaq 100 melemah 1,7%, bahkan indeks saham perusahaan megakapitalisasi mulai mendekati wilayah koreksi.
Di pasar komoditas, harga emas sempat turun 1,9% sebelum kembali menguat tipis pada perdagangan Jumat pagi.
Harga Minyak Sentuh US$100
Tekanan pasar semakin besar setelah harga minyak dunia kembali melonjak. Brent Crude ditutup di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.
Berdasarkan data pelacakan kapal tanker, lalu lintas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz hampir terhenti sepenuhnya. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar terkait gangguan serius pada rantai pasok energi global.
Imbal Hasil Obligasi Global Naik
Pasar obligasi juga merespons lonjakan inflasi yang berpotensi muncul dari kenaikan harga energi. Surat utang pemerintah Australia dibuka melemah setelah penurunan harga obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun yang sensitif terhadap kebijakan moneter naik 9 basis poin menjadi 3,74%, sementara tenor 10 tahun meningkat menjadi 4,26%. Pada saat yang sama, dolar AS menguat dan mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir.
Matt Maley dari Miller Tabak menilai bahwa konflik geopolitik menjadi faktor utama yang menekan pasar saat ini. Menurutnya, ketegangan di Timur Tengah yang belum mereda terus mendorong harga minyak naik dan mulai memberikan tekanan pada pasar kredit global.
Kekhawatiran di Pasar Kredit
Sentimen negatif juga datang dari tanda-tanda tekanan di pasar kredit swasta global yang diperkirakan bernilai sekitar US$1,8 triliun. Saham perbankan melemah setelah permintaan penarikan dana dari sejumlah dana kredit swasta memaksa Morgan Stanley dan Cliffwater LLC membatasi penarikan investor.
Sementara itu, Deutsche Bank dilaporkan memiliki eksposur sekitar US$30 miliar pada sektor tersebut. Dari sisi korporasi, Adobe Inc. juga memberikan proyeksi kinerja yang lemah dan mengumumkan pengunduran diri CEO-nya, yang turut menambah tekanan terhadap pasar saham teknologi.
Data Ekonomi Asia Dinanti
Di kawasan Asia, investor akan mencermati sejumlah data ekonomi yang dijadwalkan rilis pada Jumat. Data tersebut antara lain tingkat pengangguran di Filipina, jumlah uang beredar di Korea Selatan, serta indeks kepercayaan konsumen di Thailand.
Selain itu, pemerintah Jepang dijadwalkan melelang surat utang tenor tiga bulan senilai ¥4,7 triliun. Sementara itu, yen Jepang diperdagangkan di kisaran 159 per dolar AS setelah melemah sepanjang pekan.
Ketegangan AS–Iran
Ketegangan geopolitik tetap menjadi fokus utama pasar energi. Presiden Donald Trump menegaskan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir merupakan prioritas yang lebih penting dibandingkan menjaga stabilitas harga minyak. Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup.
Pemerintahan Donald Trump juga dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk mengesampingkan undang-undang maritim lama guna mempermudah distribusi minyak domestik, sebagai upaya meredam lonjakan harga energi.
Menteri Energi AS Chris Wright bahkan menyatakan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat berpotensi mulai mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz pada akhir Maret.
Risiko Harga Minyak Lebih Tinggi
Analis dari Goldman Sachs memperingatkan harga minyak berpotensi melampaui rekor 2008 jika gangguan pasokan melalui Selat Hormuz berlanjut hingga Maret. Pada periode tersebut, harga Brent Crude pernah mencapai US$147,50 per barel.
Menurut International Energy Agency, konflik yang sedang berlangsung telah mengganggu sekitar 7,5% pasokan minyak global, serta porsi ekspor yang bahkan lebih besar.
Prospek Kebijakan The Fed
Dengan Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan, investor akan mencermati setiap perubahan dalam proyeksi kebijakan bank sentral tersebut.
Stephen Brown dari Capital Economics menilai skenario paling hawkish adalah apabila The Fed menghapus bias pelonggaran dalam pernyataan kebijakannya dan mengubah proyeksi dari satu kali pemangkasan suku bunga menjadi tidak ada pemangkasan sama sekali tahun ini.
Pergerakan IHSG
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan masih bergerak konsolidatif pada perdagangan Jumat (13/3). Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup turun 0,37% ke level 7.362,117.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memperkirakan support IHSG berada di area 7.300 dan resistance di level 7.420. Menurutnya, pergerakan indeks dalam jangka pendek masih cenderung berada dalam rentang tersebut seiring tingginya ketidakpastian global.

