[Medan | 8 Jan 2026] PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) resmi melepas bisnis teh bermerek SariWangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa, entitas yang berada di bawah Grup Djarum. Nilai transaksi divestasi tersebut mencapai Rp1,5 triliun di luar pajak, menandai langkah strategis Unilever untuk merampingkan portofolio bisnisnya di tengah persaingan ketat industri barang konsumsi.
Pelepasan bisnis teh dinilai sebagai upaya meningkatkan efisiensi dan fokus pada segmen dengan potensi margin lebih tinggi. Head of Research Kisi Sekuritas Muhammad Wafi menilai pasar teh nasional telah memasuki fase matang dengan pertumbuhan terbatas, sehingga kontribusinya terhadap kinerja jangka panjang relatif kecil dibandingkan segmen personal care dan consumer foods yang menjadi kekuatan utama Unilever Indonesia. Dana hasil divestasi memberikan fleksibilitas tambahan bagi perusahaan untuk memperkuat neraca dan mengoptimalkan alokasi modal.
Dari sudut pandang investor, transaksi ini cenderung dipersepsikan positif. Dengan rekam jejak pembagian dividen yang solid, hasil divestasi berpotensi membuka ruang bagi pembagian dividen spesial. Namun demikian, dampak dividen terhadap harga saham umumnya bersifat jangka pendek. Manfaat yang lebih berkelanjutan diperkirakan muncul apabila dana tersebut digunakan untuk memperkuat strategi pemasaran, inovasi produk, serta meningkatkan daya saing terhadap merek-merek lokal yang kian agresif.
Praktisi pasar modal William Hartanto menilai langkah divestasi bukan hal baru bagi Unilever dan dalam beberapa kasus sebelumnya justru direspons positif oleh pasar. Ia mencatat saham UNVR sempat menguat pada 2025 setelah aksi korporasi serupa, mencerminkan kepercayaan investor terhadap strategi penyederhanaan bisnis. Hingga saat ini, pergerakan saham UNVR juga belum menunjukkan tekanan jual yang signifikan.
Secara teknikal, saham UNVR dinilai masih menarik untuk strategi buy on weakness dengan area support di kisaran Rp2.500 per saham. Target harga jangka menengah diproyeksikan berada pada rentang Rp2.740 hingga Rp3.000, sementara target fundamental berada di sekitar Rp2.850 per saham. Hal ini mencerminkan ekspektasi pemulihan bertahap seiring fokus perusahaan pada lini bisnis inti.
Berdasarkan keterbukaan informasi, perjanjian pengalihan bisnis telah ditandatangani pada 6 Januari 2026, dengan penyelesaian transaksi ditargetkan pada 2 Maret 2026. Nilai transaksi tersebut setara sekitar 45% dari ekuitas UNVR per September 2025, meski kontribusi bisnis teh terhadap laba bersih dan pendapatan relatif kecil.
Manajemen menegaskan divestasi ini tidak berdampak material terhadap operasional maupun kelangsungan usaha, dan justru menjadi fondasi untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.

