Terbaru

NamaHargaPersentase (%)Harga PenutupanHarga PembukaanPersentase Buka (%)TinggiRendahVolumeWaktu

Pidato Trump Terbaru: Mau Selesaikan Perang Atau Tetap Perang?

Presiden AS Trump memberikan sinyal terbaru bahwa perang antara AS dan Iran kemungkinan akan segera berakhir dalam 2-3 minggu ke depan. Namun dalam pidatonya pada 1 April 2026

By Aurelia Tanu

Jika APBN Tembus 3%, Apa Dampaknya ke Market?

Lonjakan harga minyak global akibat perang Iran-AS kembali menempatkan Indonesia dalam posisi rentan. Sebagai net energy importer, kenaikan harga minyak akan secara otomatis meningkatkan beban subsidi, memperlemah nilai

By Aurelia Tanu

Tanpa Strategi Keluar, Militer AS Tidak Bisa Menghentikan Perangnya Sendiri

Tiga minggu setelah bom pertama dijatuhkan di atas Teheran, AS masih belum bisa menjawab satu pertanyaan: apa sebenarnya arti menang dalam perang ini? Pertanyaan itu merupakan inti dari

By Zikri Habibi
NamaHargaPersentase (%)Harga PenutupanHarga PembukaanPersentase Buka (%)TinggiRendahVolumeWaktu

Berita Untuk Anda

Minyak Naik, Harga Ditahan: Strategi Cerdas atau Risiko Fiskal Tersembunyi?

Kenaikan harga minyak global kembali menguji ketahanan fiskal Indonesia. Di tengah tekanan tersebut, pemerintah memilih menahan harga BBM domestik guna menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi. Namun, kebijakan ini tidak terjadi dengan berjalan begitu saja, melainkan ditopang oleh kombinasi efisiensi anggaran, optimalisasi penerimaan negara, dan strategi penghematan energi. Pendekatan ini membentuk pola peredaman dari dampak guncangan ekonomi guna menjaga stabilitas

Pidato Trump Terbaru: Mau Selesaikan Perang Atau Tetap Perang?

Presiden AS Trump memberikan sinyal terbaru bahwa perang antara AS dan Iran kemungkinan akan segera berakhir dalam 2-3 minggu ke depan. Namun dalam pidatonya pada 1 April 2026 waktu AS, Trump juga menegaskan bahwa AS akan meningkatkan serangan secara signifikan, bahkan menyebut Iran bisa dibuat “kembali ke zaman batu”. Artinya, fase mendatang bukan fase mereda seperti yang diharapkan pasar, melainkan 

OPEC+ Sepakat Naikkan Kuota Produksi 206.000 Barel per Hari

Aliansi OPEC+ menyepakati kenaikan kuota produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei 2026. Namun, tambahan ini dinilai sangat terbatas dan belum mampu mengimbangi gangguan pasokan global yang jauh lebih besar. Di tengah konflik Timur Tengah, gangguan suplai diperkirakan mencapai 12–15 juta barel per hari atau sekitar 15% dari total pasokan dunia, sehingga kenaikan produksi kurang dari 2% ini lebih

Yield Obligasi Jepang Naik ke Level Tertinggi 27 Tahun, Apa Dampaknya?

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun naik ke level 2,40%, tertinggi sejak 1999. Kenaikan ini mencerminkan tekanan jual di pasar obligasi global seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi, terutama akibat lonjakan harga energi pasca eskalasi konflik di Timur Tengah. Di saat yang sama, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga lebih lama semakin menguat, setelah data tenaga kerja

Danantara Akuisisi Tiga Perusahaan Manajer Investasi BUMN Senilai Rp 2,3 T

Badan Pengelola Investasi Danantara melakukan langkah strategis dengan mengakuisisi tiga perusahaan manajer investasi milik bank BUMN, yaitu BRI Manajemen Investasi, Mandiri Manajemen Investasi, dan BNI Asset Management. Total nilai transaksi mencapai Rp2,3 triliun, dengan rincian Rp975 miliar untuk BRI MI, Rp1,02 triliun untuk MMI, dan Rp359,6 miliar untuk BNI AM. Akuisisi ini dilakukan melalui entitas PT Danantara Asset Management sebagai

Trump Ultimatum Iran, Harga Minyak Kembali Tembus US$ 111 per Barel

Harga minyak kembali melonjak tajam setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran untuk segera membuka Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, Trump mengancam akan menghantam pembangkit listrik dan infrastruktur sipil Iran jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi. Sentimen ini langsung mendorong harga minyak Brent menembus US$110 per barel, sementara WTI bergerak mendekati US$113 per barel, mencerminkan peningkatan risk premium yang signifikan

Trump Ultimatum ke Iran: Buka Selat Hormuz Dalam 48 Jam atau Infrastruktur Dihancurkan

Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum ekstrem kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam atau menghadapi penghancuran infrastruktur vital, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Ancaman ini disampaikan secara langsung melalui media sosial dengan nada agresif, bahkan menyebut tenggat waktu spesifik hingga Selasa pukul 20.00 waktu AS. Sinyal Negosiasi vs Eskalasi Meski melontarkan ancaman keras, Trump juga menyebut

Pidato Trump: AS Akan Hantam Iran ‘Dengan Sangat Keras’ Dalam 2-3 Minggu Kedepan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah setelah Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menghantam Iran “dengan sangat keras” dalam 2–3 minggu ke depan, mengecewakan pelaku pasar yang sebelumnya berharap adanya sinyal berakhirnya konflik. Per pukul 09.15 WIB, IHSG turun 0,79% ke level 7.127,87, dengan 369 saham melemah, 223 menguat, dan 366 stagnan. Dalam pidatonya,

KLBF Mau Buyback, Siapkan Dana hingga Rp 500 Miliar

Kalbe Farma (KLBF) berencana melakukan aksi pembelian kembali saham (buyback) dengan menyiapkan dana hingga Rp500 miliar. Program ini akan berlangsung selama tiga bulan, mulai 2 April hingga 2 Juli 2026, dengan biaya tambahan seperti broker dan lainnya dibatasi maksimal 0,1% dari total nilai buyback. Sumber Dana & Dampak Keuangan Perseroan akan menggunakan dana internal untuk mendanai aksi ini. Dampak finansial

Trump Sinyalkan Perang Iran Segera Berakhir, Harga Minyak Turun di Bawah US$ 100 per Barel

Harga minyak melemah pada perdagangan pagi ini seiring meningkatnya ekspektasi de-eskalasi konflik setelah pernyataan Donald Trump yang mengindikasikan perang Iran akan segera berakhir. Pasar saat ini menunggu pidato resmi Trump sebagai konfirmasi arah kebijakan AS, dengan ekspektasi nada yang lebih dovish terhadap konflik. Pergerakan Harga Minyak Harga minyak mentah Brent untuk kontrak Mei 2026 turun US$1,16 atau 1,15% ke level